UNICEF: 200 Juta Anak di 130 Negara Butuh Bantuan Kemanusiaan pada 2026

Anak-anak Palestina beraktivitas di kamp pengungsian di Gaza. (Anadolu Agency)

UNICEF: 200 Juta Anak di 130 Negara Butuh Bantuan Kemanusiaan pada 2026

Muhammad Reyhansyah • 11 February 2026 20:01

New York: Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) menyatakan bahwa lebih dari 200 juta anak di lebih dari 130 negara akan membutuhkan bantuan kemanusiaan pada 2026.

Lembaga itu menyebut kondisi tersebut sebagai salah satu krisis global paling serius yang pernah dihadapi anak-anak.

Dalam sesi reguler pertama dewan eksekutif UNICEF, Direktur Eksekutif Catherine Russell mengatakan tantangan yang dihadapi anak-anak di seluruh dunia semakin luas dan rumit, seiring konflik, guncangan iklim, ketidakstabilan ekonomi, serta ketimpangan yang terus memburuk.

“Situasi kemanusiaan yang dihadapi anak-anak saat ini termasuk yang paling parah yang pernah kita saksikan,” kata Russell, dikutip dari Anadolu Agency, Rabu, 11 Februari 2026. 

Ia menambahkan bahwa “lebih dari 200 juta anak di lebih dari 130 negara membutuhkan bantuan kemanusiaan pada 2026.”

Menurutnya, lingkungan global bagi anak-anak semakin tidak bersahabat, dengan tekanan terhadap keluarga dan komunitas yang terus meningkat sementara kebutuhan melonjak dan sumber daya menyusut.

“Mengatakan bahwa kita bertemu pada momen transisi besar, bagi dunia, bagi sistem multilateral, dan bagi UNICEF, adalah pernyataan yang terlalu sederhana,” ujarnya. 

“Dalam setahun terakhir, kita melihat tantangan terhadap masa depan sistem multilateral, terhadap nilai dan efektivitas bantuan internasional, dan pada akhirnya terhadap tanggung jawab kolektif dunia untuk merawat mereka yang paling membutuhkan, terutama anak-anak,” lanjutnya

Kekerasan terhadap Anak

Russell memperingatkan bahwa kemajuan selama beberapa dekade dalam menurunkan angka kematian anak kini terancam terbalik. “Tahun 2025 bisa menjadi tahun pertama abad ini di mana kematian anak meningkat, membalikkan kemajuan lintas generasi,” katanya.

Ia menegaskan bahwa kesehatan anak dan ibu tetap menjadi prioritas utama UNICEF, meskipun kebutuhan kemanusiaan terus meningkat.

“Konflik, guncangan iklim, ketidakstabilan ekonomi, dan ketimpangan memberikan tekanan luar biasa pada anak-anak, keluarga, dan komunitas,” ujar Russell.

Ia juga menyoroti lonjakan tajam kekerasan terhadap anak, dengan mencatat bahwa tahun lalu mencatat jumlah pelanggaran berat terhadap anak yang terverifikasi tertinggi sepanjang sejarah, termasuk pembunuhan, penculikan, dan kekerasan seksual.

“Pada saat yang sama, kelaparan kembali muncul pada 2025, ketika dua bencana kelaparan diumumkan secara bersamaan, perkembangan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sangat mengkhawatirkan,” katanya.

Pilihan Sulit

Di tengah kebutuhan yang terus meningkat, Russell menyebut pemangkasan dana secara mendadak dan signifikan telah memaksa lembaga kemanusiaan menghadapi pilihan yang sangat sulit.

“Pemotongan pendanaan yang tiba-tiba dan besar memaksa pilihan yang mustahil dalam operasi kemanusiaan; nyawa siapa yang kita prioritaskan ketika kita membatasi pasokan, mengurangi frekuensi layanan, dan memangkas intervensi yang menjadi sandaran anak-anak untuk bertahan hidup,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa memenuhi kebutuhan setiap anak menuntut optimalisasi kapasitas yang ada.

“Memberikan untuk setiap anak berarti menemukan cara untuk memaksimalkan kemampuan kita melakukan lebih banyak dengan apa yang kita miliki,” tambahnya.

Russell menekankan bahwa UNICEF beroperasi di lebih dari 190 negara dan wilayah, serta menyerukan penguatan kemitraan dan reformasi agar pekerjaan penyelamatan nyawa dapat terus berjalan.

“Pilihan yang kita buat tentang pendanaan, reformasi, dan kemitraan akan membentuk apa yang mungkin bagi anak-anak di tahun-tahun mendatang,” pungkasnya.

Baca juga:  UNICEF Indonesia Gandeng Cinta Laura untuk Perkuat Advokasi Hak Anak

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)