Miliarder teknologi, Elon Musk resmi menerima undangan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Foto: The New York Times
Elon Musk Terima Undangan Netanyahu untuk Kunjungi Israel
Fajar Nugraha • 30 December 2025 10:40
Tel Aviv: Miliarder teknologi, Elon Musk resmi menerima undangan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu untuk berkunjung ke Israel pada Maret mendatang.
Kunjungan ini merupakan sinyal penguatan kerja sama di sektor transportasi pintar dan kecerdasan buatan (AI), meski Israel tengah menghadapi kecaman global terkait agresi militer di Jalur Gaza.
“Dalam pertemuan tersebut, Netanyahu mengajak Musk untuk menghadiri Konferensi Transportasi Pintar (Smart Transportation Conference). Selain itu, keduanya membahas kelanjutan kerja sama dengan Tesla serta upaya legislatif terkait pengembangan kendaraan otonom di Israel,” ujar pernyataan
Kantor Perdana Menteri Israel, seperti dikutip TRT World, Selasa 30 Desember 2025.
Dalam pernyataan resminya, Netanyahu dan Musk juga mendiskusikan perluasan pengembangan kecerdasan buatan di Israel. Pertemuan ini menunjukkan ambisi Israel untuk tetap menjadi pusat inovasi teknologi global di tengah situasi geopolitik yang memanas.
Rencana kunjungan Musk ini menuai sorotan tajam, menyusul kemarahan internasional atas dampak kemanusiaan di Gaza. Berdasarkan data otoritas Palestina, sejak Oktober 2023, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 71.200 warga Palestina dengan mayoritas perempuan dan anak-anak, serta melukai lebih dari 171.000 orang.
Meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak 10 Oktober, para pejabat Gaza dan kelompok bantuan melaporkan, bahwa Israel masih membatasi akses di pintu perbatasan. Hal ini menghambat masuknya bantuan kemanusiaan serta material penting yang dibutuhkan untuk rekonstruksi infrastruktur yang hancur total.
Di sisi lain, Netanyahu juga menghadapi tekanan hukum internasional yang semakin besar. Pada November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant. Keduanya didakwa atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan terkait konflik di Gaza.
(Kelvin Yurcel)