Kabut asap dari karhutla di sekitar jalan tol Palembang - Indralaya - Prabumulih, Sumsel. ANTARA/Yudi Abdullah
Asap Tebal Hambat Operasi Pemadaman Karhutla di Sumsel
Silvana Febiari • 2 September 2026 19:19
Palembang: Asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Selatan (Sumsel) menghambat operasi pemadaman, terutama penanganan dari udara. Jarak pandang di sejumlah wilayah tercatat di bawah tiga kilometer sehingga menyulitkan pergerakan operator.
"Di Provinsi Sumatra Selatan, penanganan karhutla terus dilaksanakan secara terpadu melalui Satgas Darat maupun Satgas Udara. Namun demikian, kendala yang dihadapi adalah rendahnya jarak pandang sehingga menyulitkan para operator kami untuk melaksanakan operasi," kata Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan dalam konferensi pers penanganan karhutla, Rabu, 2 September 2026.
Berdasarkan data per 1 September 2026, terdapat 21 titik api di Sumsel dengan luas lahan terbakar mencapai 92,5 hektare. Dari luasan tersebut, lebih dari 24 hektare telah berhasil dipadamkan.
Berton mengatakan tebalnya asap juga membatasi waktu operasi udara karena kondisi matahari menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pelaksanaan pemadaman. "Ini juga karena disebabkan oleh asap yang tebal dan matahari yang terbatas waktu operasinya. Jadi materinya kelihatannya lebih cepat turun karena memang tebalnya asap di sana," ujarnya.
Untuk mendukung pemadaman, sebanyak 11.026 personel dikerahkan melalui Satgas Darat. Sementara operasi udara menggunakan dua armada dengan waktu operasi selama 8 jam 11 menit.
Penanganan dari udara juga diperkuat dengan empat helikopter water bombing. Sebanyak 704 ribu liter air dijatuhkan untuk membantu memadamkan karhutla, dengan luas lahan yang berhasil dipadamkan mencapai sekitar 10,5 hektare.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB saat menyampaikan perkembangan penanganan karhutla. (Dokumentasi/ YouTube BNPB Indonesia)
Selain pemadaman, BNPB melakukan operasi modifikasi cuaca dengan menyemaikan 1.000 kilogram garam. Operasi tersebut menghasilkan hujan ringan di area penyemaian.
"Daerah yang kami prioritaskan adalah Kabupaten Ogan Komering Ilir karena masih terdapat di sana belum sepenuhnya padam dan beberapa titik asap ada di kabupaten tersebut," ungkap Berton.
Pemantauan juga terus dilakukan di Kabupaten Banyuasin dan Muara Enim karena masih ditemukan titik asap setelah pelaksanaan water bombing. Penanganan karhutla di Sumsel terus dilakukan melalui operasi darat dan udara.