Konflik AS-Iran hingga Data Ekonomi AS Membayangi IHSG

Ilustrasi. Foto: dok MI/Usman Iskandar.

Konflik AS-Iran hingga Data Ekonomi AS Membayangi IHSG

Ade Hapsari Lestarini • 7 September 2026 17:40

Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin ditutup melemah 16,81 poin atau 0,25 persen ke level 6.619,67. Pergerakan indeks dipengaruhi sentimen global dan domestik. Sementara itu, indeks LQ45 yang mengukur kinerja 45 saham unggulan turun 1,17 poin atau 0,18 persen ke posisi 656,42.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan pergerakan IHSG pada awal pekan dipengaruhi sejumlah sentimen eksternal dan internal.

"Mengawali pekan ini, pergerakan IHSG dipengaruhi dari sentimen eksternal dan internal," ujar Nico dalam kajiannya, dilansir Antara, Senin, 7 September 2026.

Sementara dari eksternal, bursa saham kawasan Asia bergerak variatif seiring kehati-hatian pelaku pasar di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Nico mengatakan aksi saling serang antara kedua negara, termasuk terhadap kapal tanker minyak dan kapal yang terkait dengan AS, meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.

"Saling melancarkan serangan terhadap kapal selama akhir pekan kemarin memicu kekhawatiran inflasi baru," ujar dia.

Sentimen pasar juga dipengaruhi data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan. Data US Change in Nonfarm Payrolls meningkat dari 21 ribu menjadi 162 ribu.

Perkembangan tersebut membuat pelaku pasar kembali mencermati kondisi pasar tenaga kerja AS dan prospek kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada September 2026.


Ilustrasi. Foto: dok MI/Usman Iskandar.
 

 

Sentimen penggerak IHSG sore ini


Di sisi lain, saham teknologi global mendapat sentimen positif dari optimisme terhadap model kecerdasan buatan (AI) terbaru OpenAI yang dinilai berpotensi meningkatkan permintaan terhadap cip memori. Kenaikan saham teknologi AS pada perdagangan Jumat, 4 September 2026, turut memberikan sentimen terhadap saham produsen chip dan perusahaan terkait AI di kawasan Asia.

Sedangkan dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati risiko bencana alam, termasuk erupsi Gunung Anak Krakatau. Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan risiko terhadap kesehatan masyarakat serta mengganggu transportasi dan logistik.

Sentimen domestik lainnya datang dari perkembangan cadangan devisa Indonesia. Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 sebesar USD146,5 miliar, meningkat dari USD145,3 miliar pada akhir Juli 2026.

Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

IHSG sempat dibuka menguat pada perdagangan Senin. Namun, indeks berbalik ke zona negatif hingga penutupan sesi pertama dan bertahan di zona merah pada sesi kedua. Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, tujuh sektor menguat. Sektor industri memimpin kenaikan sebesar 1,30 persen, diikuti sektor energi sebesar 1,06 persen dan sektor barang kesehatan sebesar 0,77 persen.

Sebaliknya, empat sektor melemah. Sektor teknologi mencatat penurunan terdalam sebesar 0,73 persen, diikuti sektor keuangan sebesar 0,70 persen dan sektor barang baku sebesar 0,60 persen. Saham yang mencatat penguatan harga terbesar antara lain MEDS, NZIA, HALO, SOHO, dan SHID. Sementara saham dengan pelemahan harga terbesar yakni HOPE, JAYA, AKSI, LUCY, dan LOPI.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2,12 juta kali transaksi dengan volume perdagangan 35,26 miliar saham senilai Rp13,62 triliun. Sebanyak 300 saham menguat, 348 saham melemah, dan 315 saham stagnan.

Di bursa regional Asia, indeks Nikkei menguat 2,02 persen ke 66.334,00, Shanghai Composite naik 0,07 persen ke 3.932,70, Hang Seng turun 0,93 persen ke 25.413,12, Kospi menguat 4,61 persen ke 6.995,39, dan Straits Times melemah 0,16 persen ke 5.793,36.

(Ade Hapsari Lestarini)