Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Foto: Metrotvnews.com/Adinda Vinka.
Pramono Targetkan Groundbreaking Giant Sea Wall September 2026
Cony Brilliana • 20 January 2026 14:54
Jakarta: Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menargetkan peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek raksasa tanggul laut (Giant Sea Wall) dilakukan pada September 2026. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan kesiapan jajarannya untuk mengeksekusi proyek strategis nasional tersebut guna mengatasi ancaman banjir rob permanen di pesisir utara Jakarta.
“Kami, Pemerintah Jakarta, menunggu sepenuhnya arahan dari pemerintah pusat,” ujar Pramono di sela acara Groundbreaking MRT Jakarta Fase 2A Harmoni, Jakarta Pusat, Selasa, 20 Januari 2026.
Baca Juga :
Pramono menjelaskan, beban kerja yang diemban Pemprov DKI Jakarta dalam proyek ini mengalami penambahan signifikan. Awalnya, Jakarta hanya bertanggung jawab membangun tanggul sepanjang 12 kilometer, namun kini bertambah menjadi 19 kilometer. Meski beban bertambah, Pramono memastikan anggaran dan teknis pelaksanaan sudah siap dijalankan begitu ada instruksi dari pusat.
“Dulu Jakarta ini kebagian 12 km, tetapi kemarin ditambahkan menjadi 12 tambah 7 menjadi 19. Mau 12, mau 19, Jakarta akan mengerjakan. Rencananya groundbreaking-nya itu mulai bulan September tahun ini,” tegas Pramono.
.jpg)
Ilustrasi tanggul laut. Foto: Dok. Metro TV.
Sambil menunggu dimulainya proyek raksasa tersebut, Pemprov DKI terus mempercepat penyelesaian tanggul pantai melalui program National Capital Integrated Coastal Development (NCICD). Saat ini, sejumlah ruas tanggul seperti di kawasan Ancol telah rampung dan mulai memasuki tahap beautifikasi agar dapat difungsikan sebagai ruang publik bagi warga.
“Sekarang yang sedang kita bangun, yang dilakukan oleh Pemerintah Jakarta sendiri adalah NCICD, yang tanggul-tanggul yang apa, di pantai-pantai yang ada di utara,” imbuh Pramono.
Pramono menekankan pentingnya percepatan proyek ini mengingat tantangan cuaca ekstrem yang semakin sering melanda ibu kota. Menurutnya, keberadaan Giant Sea Wall menjadi kunci agar air hujan bisa dipompa keluar dengan maksimal meski kondisi muka air laut sedang tinggi, sehingga durasi genangan di wilayah Jakarta Utara dapat diminimalisasi secara signifikan.