Presiden AS Donald Trump. (Anadolu Agency)
Laporan Kiel Institute: 96 Persen Beban Tarif Trump Ditanggung Warga AS
Willy Haryono • 20 January 2026 11:23
Berlin: Laporan terbaru dari lembaga riset ekonomi Jerman, Kiel Institute for World Economy, mengungkapkan bahwa beban utama kebijakan tarif impor Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru ditanggung warga AS sendiri. Data menunjukkan 96 persen biaya tarif dibebankan kepada importir dan konsumen domestik di Amerika Serikat.
Dilansir dari Anadolu Agency, Selasa, 20 Januari 2026, temuan tersebut membantah klaim pemerintah AS yang selama ini menyatakan bahwa eksportir asing menanggung biaya tarif. Dalam laporannya, lembaga nirlaba itu menegaskan bahwa eksportir asing hanya menanggung sekitar empat persen dari total beban pajak yang diberlakukan.
Meski Trump mengklaim kebijakan tarif telah menghasilkan pendapatan hingga triliunan dolar AS dan membantu menekan inflasi, Kiel Institute menilai kebijakan itu merugikan ekonomi domestik.
Pendapatan tarif AS memang diproyeksikan mencapai USD200 miliar pada 2025, namun sumber dana tersebut pada dasarnya berasal dari masyarakat AS sendiri.
Direktur Riset Kiel Institute, Julian Hinz, menyebut kebijakan tarif sebagai “gol bunuh diri”. Ia menegaskan anggapan bahwa negara asing membayar tarif adalah mitos, karena data menunjukkan warga Amerika-lah yang akhirnya membayar biaya tersebut.
Laporan itu menganalisis lebih dari 25 juta catatan pengiriman dengan nilai transaksi mencapai USD4 triliun. Kiel Institute memperingatkan dampak jangka panjang terhadap pasar AS, karena kebijakan tarif bekerja layaknya pajak konsumsi yang menurunkan variasi dan volume produk impor.
Dampaknya, perusahaan-perusahaan di AS diperkirakan menghadapi penyempitan margin laba, sementara konsumen berpotensi menanggung kenaikan harga barang. Di sisi lain, negara-negara pengekspor ke AS diprediksi mengalami penurunan penjualan dan terdorong mencari pasar alternatif.
Hingga laporan tersebut dirilis, Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi atas temuan lembaga riset independen itu yang bertentangan dengan pernyataan ekonomi Presiden Trump sebelumnya. (Kelvin Yurcel)
Baca juga: Trump: Tarif Perdagangan Bisa Bantu Kurangi Pajak Penghasilan