Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Foto: Dok. MGN.
Kemenhut Diminta Optimalkan Penanganan Karhutla
Achmad Zulfikar Fazli • 17 July 2026 18:53
Jakarta: Anggota Komisi IV DPR, Sonny T. Danaparamita, menyoroti soal ribuan titik panas (hotspot) yang mengepung sejumlah wilayah di Indonesia, khususnya Kalimantan Selatan dan Sumatra. Dia telah berkoordinasi dengan pihak Kementerian Kehutanan (Kemenhut) untuk memastikan kesahihan data dan langkah mitigasi penanganan di lapangan.
"Begitu melihat pemberitaan hari ini, saya langsung berkomunikasi dengan Direktur Jenderal Penegakan Hukum (Dirjen Gakkum) Kementerian Kehutanan, Bapak Dwi Januanto. Saya meminta agar situasi ini segera diberikan atensi penuh," ujar Sonny dalam keterangan tertulis, Jumat, 17 Juli 2026.
Dari hasil komunikasi tersebut, Sonny membeberkan laporan terkini pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan per 16 Juli 2026. Berdasarkan data Dirjen Gakkum, luasan lahan terbakar mencapai 383,07 hektare, terdiri atas 29,44 Ha lahan gambut dan 353,63 Ha lahan mineral.
Secara nasional, luasan lahan terbakar dari Januari hingga Juni 2026 telah menembus angka 107.000 hektare. Sonny menjelaskan meskipun ada ribuan hotspot yang terdeteksi satelit, tidak semua merupakan titik api riil (fire spot).
Di Kalsel, laporan Dirjen Gakkum mencatat ada 34 hotspot kategori menengah hingga tinggi yang tersebar di 9 kabupaten/kota, dengan jumlah terbanyak di Kabupaten Tapin (13 titik).
"Untuk fire spot atau kebakaran riil, saat ini tengah ditangani di dua lokasi lahan semi-gambut, yakni di Kabupaten Tanah Bumbu (2 Ha) dan Kota Banjarbaru (2 Ha). Syukurlah, kualitas udara masih dalam kategori sedang dan aktivitas penerbangan di Bandara Syamsuddin Noor masih normal dengan jarak pandang 10 km," ungkap Sonny.
.jpg)
Anggota Komisi IV, Sonny T. Danaparamita. Dok. Istimewa
Pemerintah Provinsi Kalsel telah menetapkan Status Siaga sejak 6 Juli hingga 31 Oktober 2026. Sonny mengapresiasi langkah mitigasi yang sedang berjalan, seperti Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan sejak 15 Juli 2026, pembukaan pintu air untuk pembasahan lahan gambut, patroli terpadu dan mandiri, serta penyiagaan 180 personel Brigdalkar Manggala Agni di Daops Tanah Bumbu, Banjarbaru, dan Tanah Laut.
Penambahan Personel dan Optimasi Anggaran Bencana
Meskipun upaya mitigasi telah berjalan, Sonny menegaskan pemerintah pusat hingga daerah tidak boleh lengah. Berdasarkan pengamatan di lapangan, kapasitas penanganan belum proporsional dengan ancaman kemarau panjang."Berdasarkan hasil kunjungan kerja saya ke beberapa daerah, terlihat jelas bahwa jumlah personel maupun peralatan pengendalian karhutla memang kurang memadai. Oleh karena itu, dalam Rapat Kerja dengan Kementerian Kehutanan, saya sudah secara tegas meminta agar kementerian menambah jumlah personel dan peralatannya, termasuk memaksimalkan penggunaan teknologi terkini," ujar Sonny. Sonny mengingatkan penanganan karhutla tidak bisa hanya bertumpu pada Kementerian Kehutanan. Dukungan penuh dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sangat krusial.
Dia memaparkan empat langkah strategis terkait optimalisasi anggaran. Pertama, anggaran APBD murni harus dioptimalkan untuk program pra-bencana (mitigasi), seperti pengadaan armada tangki air, pompa portabel, Alat Pelindung Diri (APD) petugas, hingga pembentukan Masyarakat Peduli Api (MPA) di tingkat desa/kelurahan.
"Kedua, percepatan penggunaan Belanja Tidak Terduga (BTT). Kepala Daerah harus berani menerbitkan SK Status Siaga Darurat sebagai dasar hukum pencairan dana BTT guna mendanai operasional patroli terpadu dan pembuatan sekat bakar," ungkap Sonny.
Ketiga, integrasi anggaran lintas sektor, termasuk pemanfaatan Dana Desa (DD) untuk pencegahan karhutla berskala lokal yang disinkronkan dengan Dinas Pemadam Kebakaran setempat.
"Keempat, jika kapasitas anggaran daerah sangat terbatas, BPBD Kabupaten/Kota harus segera berkoordinasi dengan BPBD Provinsi untuk mengajukan Dana Siap Pakai (DSP) maupun bantuan logistik kepada BNPB," terang Sonny.
Selain menuntut kesigapan aparatur negara, dia memberikan peringatan keras kepada pihak swasta, khususnya perusahaan perkebunan dan kehutanan. Perusahaan yang wilayah sekitarnya sering menjadi titik hotspot harus proaktif memberikan dukungan personel maupun armada.
Sonny memastikan Komisi IV DPR akan mengawal dan mengawasi implementasi penanganan Karhutla agar kerugian ekologis dan ekonomi masyarakat dapat diminimalisasi.