Sampah Elektronik di SMAN 68 Jakarta Diangkut Berkala

Penampungan limbah elektronik (E-Waste) di SMAN 68 Jakarta. Foto: Metrotvnews.com/Arini Noviawati Gunawan.

Sampah Elektronik di SMAN 68 Jakarta Diangkut Berkala

Metro TV • 30 September 2026 20:32

Jakarta: Pengelolaan limbah elektronik (E-Waste) di lingkungan sekolah memiliki alur yang berbeda dibanding pengangkutan sampah harian biasa. Seperti di  SMAN 68 Jakarta, yang merupakan titik awal program E-Waste School Movement, menerapkan mekanisme pemantauan berkala dan alur koordinasi intensif bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta.

“Jadwal angkut sampah elektronik ini berbeda dengan sampah lainnya. Kita melihat sejauh mana sampah per bulannya, kalau sudah penuh kita akan menghubungi pihak DLH,” ujar Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan dan Humas, Iyan Maulana, di Jakarta, Rabu, 30 September 2026.

Iyan Maulana menjelaskan proses pengangkutan e-waste dari sekolah tidak dilakukan setiap hari layaknya sampah biasa. Pihak sekolah menyebut pengangkutan e-waste mengandalkan sistem volume berkala sebelum mengajukan proses angkut.

Sistem pengangkutan yang terstruktur ini mendapat respons positif dari para siswa. Keberadaan alur yang jelas memberikan kepastian bagi warga sekolah bahwa limbah berbahaya yang mereka pilah tidak akan berakhir tercampur di tempat yang tidak tepat.

Selain itu, sebelum adanya fasilitas drop box dan alur pengangkutan yang terintegrasi ini, terdapat sejumlah siswa yang masih bingung dalam menangani sampah elektronik skala kecil yang akhirnya berpotensi menumpuk begitu saja.

“Sebelum ada peluncuran ini aku belum kepikiran kalau bakal ada yang mengumpulkan e-waste untuk didaur ulang (recycle). Selama ini aku memang mikir banyak juga ya seperti kabel-kabel tidak terpakai dan akhirnya numpuk,” ujar siswa kelas 12 SMAN 68 Jakarta, Naila.

Penerapan sistem penampungan limbah elektronik (E-Waste) di SMAN 68 Jakarta. Foto: Metrotvnews.com/Arini Noviawati Gunawan.

Senada dengan Naila, Malika yang juga siswa kelas 12, menyampaikan kehadiran fasilitas drop box sekolah menjadi alternatif sekaligus jawaban atas kekhawatiran terhadap bahaya limbah elektronik jika dibuang sembarangan.

Siswa lainnya, Airin serta Michelle menyambut baik program peduli lingkungan ini. Menurut mereka, kepastian alur pengangkutan sampah elektronik ke DLH membuat siswa tidak ragu memilah limbah elektronik milik mereka.

“Aku udah sempat menyetorkan barang elektronik bekas waktu hari peluncuran ya, yaitu powerbank pribadi yang sudah rusak,” ujar Michelle.

Airin menambahkan bahwa menyetorkan sampah elektronik ke drop box jauh lebih berguna dibanding membiarkannya menumpuk atau membuangnya sembarangan. Menurutnya, alur pengangkutan yang jelas memberikan kepastian bahwa sampah tersebut akan dikelola oleh pihak yang tepat.

(Metrotvnews.com/Arini Noviawati Gunawan)

(Siti Yona Hukmana)