Ilustrasi. Foto: Freepik.
Bukan Sekadar Pasar, Indonesia Didorong Jadi Pusat Produksi Manufaktur Teknologi
Whisnu Mardiansyah • 19 October 2026 21:21
Jakarta: Indonesia didorong memperkuat perannya dalam industri manufaktur teknologi agar tidak hanya menjadi pasar bagi produk-produk asing, tetapi juga menjadi basis pengembangan dan produksi yang mampu bersaing di tingkat global. Upaya tersebut membutuhkan penguatan sumber daya manusia, kemampuan manufaktur, serta rantai pasok nasional.
CEO SofLogic Indonesia, Stanley Lawrence, mengatakan Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan produk teknologi melalui dukungan talenta, kreativitas, dan kapasitas industri dalam negeri. Potensi tersebut perlu dioptimalkan agar produk yang dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan konsumen sekaligus bersaing dengan merek internasional.
“Indonesia jangan hanya menjadi pasar bagi produk teknologi. Kita memiliki talenta, kreativitas, dan potensi industri untuk menghasilkan produk sendiri. Tantangannya adalah bagaimana membangun produk yang benar-benar kompetitif, memenuhi kebutuhan konsumen, dan mampu bersaing di pasar global,” ujar Stanley dalam keterangan tertulisnya, Senin, 19 Oktober 2026.
SofLogic Indonesia mengusung semangat “Innovation from Indonesia. Technology for the World” dalam mengembangkan bisnisnya. Perusahaan menyasar sejumlah segmen, mulai dari teknologi informasi dan komunikasi, perangkat layar dan kios digital, solusi daya dan energi, perangkat perkantoran dan bisnis, hingga elektronik konsumen.
SofLogic merencanakan pembukaan Experience Centre di Jakarta untuk memperkenalkan produk dan solusi teknologi kepada konsumen. Pengembangan fasilitas tersebut menjadi bagian dari penguatan operasional perusahaan.
Namun, upaya menjadikan Indonesia sebagai basis manufaktur teknologi juga membutuhkan kemampuan menghasilkan produk berkualitas, menjaga efisiensi produksi, menetapkan harga yang kompetitif, dan menyediakan layanan purnajual yang memadai.
SofLogic menyatakan produk-produknya dirancang dan diproduksi di Indonesia dengan memperhatikan ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sesuai regulasi yang berlaku. Perusahaan menilai penguatan kandungan lokal perlu diiringi peningkatan kompetensi tenaga kerja, kemampuan produksi, dan keterlibatan rantai pasok domestik.
“TKDN tidak seharusnya berhenti sebagai angka atau kewajiban administratif. Yang perlu dibangun adalah kemampuan industri di baliknya, termasuk sumber daya manusia, manufaktur, dan rantai pasok dalam negeri. Dengan begitu, pengembangan produk lokal dapat memberikan nilai tambah yang lebih luas bagi Indonesia,” kata Stanley.

Ilustrasi saham AI. (Dok. Istimewa)
Menurutnya, pengembangan manufaktur teknologi tidak cukup hanya berfokus pada pemenuhan ketentuan kandungan lokal. Industri juga perlu membangun kemampuan produksi yang berkelanjutan agar dapat menghasilkan produk dengan kualitas yang sesuai kebutuhan pasar.
Di pasar domestik, perusahaan teknologi lokal menghadapi persaingan dengan merek internasional yang telah memiliki reputasi, jaringan distribusi, dan basis konsumen. Kondisi tersebut menuntut produsen dalam negeri menunjukkan daya saing melalui kualitas, keandalan, dan manfaat produk.
“Label Indonesia saja tidak cukup. Produk harus mampu membuktikan kualitas, keandalan, dan manfaatnya bagi konsumen. Kami harus memberikan alasan yang kuat bagi masyarakat untuk memilih produk yang dikembangkan dan diproduksi di Indonesia,” ujarnya.
Penguatan kemampuan manufaktur juga berkaitan dengan ambisi perusahaan membawa produk teknologi Indonesia ke pasar internasional. Untuk mewujudkannya, produsen perlu memperhatikan standar kualitas, inovasi, efisiensi produksi, layanan purnajual, serta jaringan distribusi di negara tujuan.
Chief Operating Officer (COO) SofLogic, Ivan Werdoyo, mengatakan produk karya anak bangsa diharapkan dapat digunakan dan dipercaya konsumen di luar Indonesia. Menurutnya, pencapaian target tersebut memerlukan peningkatan kualitas dan kesiapan industri untuk bersaing secara terbuka.
“Harapan kami, karya anak bangsa tidak hanya digunakan di Indonesia, tetapi juga bisa dikenal dan dipercaya di negara lain. Untuk mencapai itu, kita harus terus meningkatkan kualitas, memperkuat kemampuan produksi, dan membangun kepercayaan pasar. Inilah tantangan yang harus dijawab bersama,” katanya.
SofLogic menjadi salah satu perusahaan yang berupaya mengembangkan produk teknologi di dalam negeri sekaligus menargetkan pasar internasional. Perkembangan bisnisnya akan bergantung pada kemampuan perusahaan membuktikan kualitas produk, memperkuat kapasitas produksi, dan membangun kepercayaan konsumen.
Bagi Indonesia, penguatan manufaktur teknologi menjadi tantangan untuk mengubah besarnya pasar domestik menjadi kemampuan produksi dan inovasi. Pengembangan sumber daya manusia, peningkatan kapasitas industri, serta penguatan rantai pasok nasional menjadi bagian penting dalam upaya memperluas daya saing produk teknologi Indonesia di pasar global.