Ilustrasi. Foto: Dok Marketeers
Kalahkan Nvidia, Samsung Jadi Perusahaan dengan Laba Tertinggi di Dunia
Eko Nordiansyah • 18 October 2026 13:15
Suwon: Samsung Electronics telah melampaui Nvidia dalam hal laba operasional kuartalan. Bisnis cip memori Samsung yang sedang berkembang pesat diperkirakan akan terus mendorong pertumbuhan, di tengah lonjakan permintaan untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Dikutip dari Investing, Minggu, 18 Oktober 2026, Samsung melaporkan laba operasional kuartal ketiga sebesar 107,4 triliun won (USD75 miliar), naik 783 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan 20 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Angka tersebut melampaui estimasi laba operasional Nvidia sebesar 97 triliun won untuk periode yang sama, menjadikan Samsung sebagai perusahaan dengan laba operasional kuartalan terbesar di dunia.
Analis KB Securities mempertahankan peringkat "beli" untuk saham Samsung dengan target harga 600.000 won. Mereka berpendapat bahwa valuasi saham saat ini belum mencerminkan potensi pendapatannya.
Perusahaan sekuritas tersebut memproyeksikan laba operasional kuartal keempat mencapai 114 triliun won, dengan 113 triliun won di antaranya berasal dari bisnis memori, yang mencakup dynamic random-access memory (DRAM) dan cip flash NAND.

(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com)
Proyeksi laba Samsung di 2027
Pertumbuhan laba Samsung diperkirakan akan semakin cepat pada 2027 seiring dengan kenaikan harga high-bandwidth memory (HBM) yang digunakan dalam akselerator AI. KB Securities memperkirakan harga jual rata-rata HBM akan meningkat lebih dari 100 persen secara tahunan (year-on-year), didorong oleh penetapan harga premium untuk produk HBM4 generasi berikutnya.Para analis juga memperkirakan Samsung akan meningkatkan imbal hasil bagi pemegang saham melalui pembagian dividen dan pembatalan saham.
Berdasarkan sumber daya sebesar 110 triliun won yang tersisa dalam program pengembalian kepada pemegang saham untuk periode tiga tahun saat ini, perusahaan tersebut dapat membagikan dividen tunai sebesar 70 triliun hingga 80 triliun won serta melakukan pembatalan saham senilai 30 triliun hingga 40 triliun won, ungkap mereka.
KB Securities berpendapat bahwa rasio harga terhadap laba (price-to-earnings ratio) masa depan Samsung yang rendah sulit untuk dibenarkan jika menilik prospek laba serta potensi pembayaran kepada pemegang saham.
Perusahaan sekuritas tersebut memandang bahwa peningkatan pengembalian kepada pemegang saham dapat menjadi katalis bagi penyesuaian kembali valuasi (re-rating).