BMKG: Curah Hujan DIY Masih Rendah Hingga November 2026

Ilustrasi hujan. (Dokumentasi/ BMKG)

BMKG: Curah Hujan DIY Masih Rendah Hingga November 2026

Lukman Diah Sari • 20 October 2026 18:45

Yogyakarta: Stasiun Klimatologi Kelas II Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memprediksi curah hujan di wilayah provinsi ini pada dasarian III Oktober 2026 masih berada dalam kategori rendah.

"Curah hujan dasarian III Oktober 2026 diprediksi dalam kategori rendah berkisar antara 10-50 mm/dasarian dengan sifat hujan sebagian besar bawah normal," kata Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II DIY, Mamenun, di Yogyakarta, Selasa, 20 Oktober 2026, melansir Antara.


Update terkini cuaca Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) prediksi BMKG. Antara/HO-Humas BMKG Yogyakarta

Kondisi serupa diprediksi berlanjut pada dasarian I November 2026. Curah hujan di DIY diperkirakan bertahan di kategori rendah, yakni 10-50 mm/dasarian, dengan sifat hujan sepenuhnya di bawah normal.

"Sementara curah hujan dasarian II November 2026 diprediksi dalam kategori rendah-menengah antara 20-75 mm/dasarian dengan sifat hujan seluruhnya bawah normal," katanya.

Memasuki bulan Desember 2026, curah hujan mulai bergerak di kisaran 151-500 mm/bulan. Angka ini masih masuk dalam kriteria rendah dengan sifat hujan di bawah normal hingga atas normal.

Waspada Dampak Peralihan Musim

Merespons prediksi tersebut, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat luas untuk mewaspadai ancaman kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga memburuknya kualitas udara akibat mundurnya awal musim hujan.

"Juga meningkatkan kewaspadaan pada masa peralihan atau akhir musim kemarau yang ditandai dengan cuaca ekstrem, seperti hujan lebat, petir, angin kencang, puting beliung, dan hujan es," katanya. Sebagai bentuk mitigasi menghadapi cuaca ekstrem selama pancaroba, BMKG meminta warga melakukan sejumlah langkah preventif, antara lain membersihkan sumbatan di saluran air, memangkas dahan pohon yang rimbun atau berisiko tumbang, dan memastikan struktur bangunan dan baliho dalam kondisi kuat.

"Juga lebih siap dan antisipatif terhadap dampak puncak musim hujan, khususnya di wilayah rawan banjir, tanah longsor, angin kencang, serta bencana hidrometeorologi lainnya," katanya.

(Lukman Diah Sari)