Keteladanan Tokoh Bangsa Diharapkan jadi Inspirasi bagi Generasi Muda

Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid, Yenny Wahid (kedua dari kiri) dan anak Presiden ketiga RI Habibie, Ilham Akbar Habibie (paling kiri). Dok. Istimewa

Keteladanan Tokoh Bangsa Diharapkan jadi Inspirasi bagi Generasi Muda

Achmad Zulfikar Fazli • 27 October 2026 20:56

Jakarta: Dalam momentum hari Sumpah Pemuda, warisan keteladanan tokoh bangsa diharapkan tidak berhenti pada pencapaian masa lalu. Nilai, keberanian, integritas, dan pengabdian mereka harus menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk menjawab tantangan Indonesia pada masa depan.

Tokoh bangsa yang memiliki kontribusi dalam pembangunan Indonesia sekaligus menghidupkan kembali semangat persatuan, di antaranya Presiden ketiga RI BJ Habibie, Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan pendiri PT Astra William Soeryadjaya.

Mereka menunjukkan kecintaan terhadap Indonesia dapat diwujudkan melalui berbagai bidang, mulai dari pembangunan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta penghormatan terhadap keberagaman menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi bangsa.

“Mereka telah merawat semangat kebersamaan di jalannya masing-masing untuk membangun Indonesia yang satu. Tiga tokoh, satu Indonesia,” kata Co-Founder dan CEO Katadata Metta Dharmasaputra di Jakarta, dikutip pada Selasa, 27 Oktober 2026.

Atas kontribusinya terhadap bangsa, ketiga tokoh bangsa itu mendapat penghargaan Lifetime Achievement Award. Usai menerima penghargaan, masing-masing perwakilan tokoh bercerita tentang nilai-nilai dasar kehidupan yang terus mereka kenang.

Putri Gus Dur, Yenny Wahid, menuturkan, ayahnya sering disalahpahami dengan anggapan sekadar pembela minoritas. Padahal, ayahnya adalah pembela orang-orang yang dizalimi. 

“Banyak yang saya teladani dari Gus Dur, terutama adalah keberanian beliau untuk mengatakan apa yang benar dan apa yang salah. Walaupun kemudian beliau harus membayar sangat mahal atas apa yang beliau yakini. Dan bagi Gus Dur, kemanusiaan mengalahkan identitas bahwa semua makhluk adalah makhluk Tuhan,” ujar Yenny.

Ilham Akbar Habibie. Dok. Istimewa
 

Hal senada disampaikan anak Habibie, Ilham Akbar Habibie. Menurut dia, ada banyak kesalahpahaman mengenai ayahnya dengan penekanan yang berfokus tentang teknologi. 

“Padahal sebetulnya tidak, yakni juga mendorong demokrasi. Beliau kerap menekankan ada kaitan erat antara teknologi atau Iptek, dengan demokrasi (moral dan etika). Kita butuh kesinambungan antara Iptek sekaligus menjunjung moral dan etika,” kata Ilham. 

Sementara itu, anak William Soeryadjaya, Edwin Soeryadjaya mengingat pentingnya pesan soal menjaga integritas. “Satu hal yang ayah kami ingatkan kepada saya, yakni harus memegang integritas. Kami selalu diingatkan agar selalu jujur,” tutur Edwin.

Keteladanan Para Tokoh

Pemikir kebhinekaan Sukidi menekankan soal keteladanan dan nilai kehidupan ketiga tokoh, termasuk integritas dalam berwirausaha, keberanian mengembangkan teknologi, serta komitmen membela kemanusiaan dan menghormati perbedaan.

Sukidi memaparkan ada tiga kualitas utama manusia Indonesia yang terefleksikan dalam karakter ketiga tokoh. Karakter pertama, tercermin pada diri seorang B.J. Habibie sebagai Bapak Demokrasi. Kedua, sosok Gus Dur yang menjadi main character dalam konteks Bapak Pluralisme. Ketiga, figur William Soeryadjaya sebagai legenda otomotif Indonesia karena etos kerja kerasnya. 

“Saya memaknai Sumpah Pemuda sebagai tonggak utama persatuan dan kebersamaan untuk memajukan Indonesia Raya,” kata Sukidi.

(Achmad Zulfikar Fazli)