Karhutla Meluas, Dinkes Kalsel Minta Faskes Perkuat Deteksi Dini ISPA

Petugas Dinkes Kalsel memberikan pelayanan kesehatan bagi satuan tugas karhutla di posko kesehatan di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin, 31 Agustus 2026. ANTARA/HO-Dinkes Kalsel

Karhutla Meluas, Dinkes Kalsel Minta Faskes Perkuat Deteksi Dini ISPA

Silvana Febiari • 31 August 2026 20:58

Banjarmasin: Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Selatan meminta seluruh fasilitas pelayanan kesehatan (faskes) melakukan deteksi dini dan penanganan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) selama kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Dinkes Kalsel Diauddin mengatakan pihaknya mengoptimalkan laporan dari puskesmas dan rumah sakit untuk memperkuat deteksi dini. Laporan yang dihimpun setiap minggu itu digunakan untuk memantau perkembangan kasus ISPA di seluruh kabupaten/kota.

“Surveilans terus kita perkuat melalui laporan dari puskesmas dan rumah sakit. Data ini kita pantau setiap minggu untuk melihat bagaimana perkembangan kasus ispa di masing-masing daerah, sehingga apabila ada peningkatan kita dapat segera melakukan langkah respons,” ujar Diauddin, dilansir dari Antara, Senin, 31 Agustus 2026. 


Dia mengatakan data tersebut menjadi dasar Dinkes Kalsel dan dinas kesehatan kabupaten/kota untuk memantau kondisi di lapangan. Data itu juga digunakan untuk menentukan langkah respons jika terjadi peningkatan kasus ISPA di suatu daerah.

Ia menekankan fasilitas kesehatan harus memastikan pasien dengan keluhan ISPA mendapat pemeriksaan dan pengobatan sesuai kondisi klinis. Pasien juga harus segera dirujuk jika membutuhkan penanganan lebih lanjut agar mendapat pelayanan yang tepat.

“Fasilitas pelayanan kesehatan kita dorong untuk melakukan deteksi dan penanganan secara dini. Pasien yang datang dengan keluhan ISPA harus mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan sesuai kondisi klinisnya. Apabila memang membutuhkan penanganan lebih lanjut, tentu dilakukan rujukan,” katanya.

Selain memperkuat pelayanan kesehatan, Dinkes Kalsel juga mengedukasi masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Masyarakat diminta rajin mencuci tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, menjaga kebersihan lingkungan, serta memastikan sirkulasi udara tetap baik.

Dinkes Kalsel mengimbau masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan untuk menggunakan masker, terutama saat berada di tempat ramai atau berinteraksi dengan orang lain. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi risiko penularan selama kualitas udara terdampak karhutla.

“Tetap menjaga kesehatan dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Etika batuk dan bersin, menjaga kebersihan tangan, memperhatikan sirkulasi udara, dan menggunakan masker ketika sedang mengalami gejala gangguan pernapasan merupakan langkah sederhana yang penting dilakukan,” ucapnya.

Dia mengingatkan masyarakat tidak mengabaikan gejala ISPA seperti batuk, pilek, demam, sakit tenggorokan maupun sesak napas. Apabila keluhan semakin berat atau tidak kunjung membaik, warga segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.

“Jangan mengabaikan gejala yang muncul. Kalau keluhan semakin berat atau tidak membaik, segera periksa ke fasilitas kesehatan. Hindari melakukan pengobatan sendiri secara berlebihan karena penanganan harus disesuaikan dengan kondisi pasien,” ujarnya.


Pemerintah Kabupaten Banjar melakukan langkah antisipasi terhadap dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah yang diperkirakan semakin meningkat, Martapura, beberapa waktu lalu. ANTARA/HO-Medcen Kominfo Banjar


Dinkes Kalsel bersama dinas kesehatan kabupaten/kota terus memantau perkembangan kasus ISPA melalui pemutakhiran data mingguan. Pemantauan ini dilakukan untuk mengetahui kondisi di lapangan secara cepat dan menjadi dasar penentuan langkah penanganan.

Diauddin menegaskan pengendalian ISPA selama karhutla membutuhkan kolaborasi pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan surveilans, deteksi dini, pencegahan, serta pemeriksaan cepat untuk menekan risiko komplikasi dan penularan penyakit.

Berdasarkan data sementara gabungan laporan puskesmas dan rumah sakit pada Minggu Epidemiologi (ME) ke-34, tercatat 3.990 kasus ISPA di Kalimantan Selatan. Dari jumlah tersebut, 3.506 kasus berasal dari puskesmas dan 484 kasus dilaporkan oleh rumah sakit.

Kasus ISPA tertinggi tercatat di Banjarmasin dengan 988 kasus, disusul Banjarbaru 670 kasus dan Hulu Sungai Tengah 405 kasus. Selanjutnya, Banjar mencatat 391 kasus, Barito Kuala 287 kasus, Hulu Sungai Selatan 244 kasus, Tanah Laut 218 kasus, Kotabaru 210 kasus, Tabalong 181 kasus, Tanah Bumbu 135 kasus, Tapin 102 kasus, Balangan 81 kasus, dan Hulu Sungai Utara 78 kasus.

(Silvana Febiari)