Para demonstran mengikuti aksi protes terhadap pemerintah Iran di Frankfurt, Jerman, 12 Januari 2026. EFE-EPA/MATIAS BASUALDO
Iran Ancam Tindak Tegas Protes Anti-Pemerintah di Tengah Perang
Riza Aslam Khaeron • 12 March 2026 14:00
Teheran: Pihak berwenang Iran mengeluarkan peringatan keras bahwa mereka akan bertindak tegas terhadap setiap aksi protes internal yang dianggap anti-pemerintah.
Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya ancaman dari Israel dan Amerika Serikat yang menargetkan pasukan paramiliter Basij, serta seruan agar rakyat Iran bangkit melawan rezim yang telah berkuasa selama 47 tahun.
Berdasarkan laporan Al Jazeera pada Kamis, 12 Maret 2026, Kepala Kepolisian Iran Ahmad-Reza Radan menyatakan dalam program televisi pemerintah pada Selasa malam bahwa jika ada warga yang turun ke jalan "atas kehendak musuh", maka pihak keamanan tidak akan menganggap mereka sebagai pengunjuk rasa.
"Kami tidak akan melihat mereka sebagai pengunjuk rasa atau apa pun; kami akan menganggap mereka sebagai musuh dan memperlakukan mereka sebagaimana kami memperlakukan musuh," ucap Radan.
Peringatan ini dikeluarkan dua bulan setelah ribuan orang tewas dalam protes nasional yang, menurut otoritas Iran, dipicu oleh "teroris" dukungan AS dan Israel.
Organisasi HAM berbasis AS, HRANA mengkonfirmasi lebih dari 7.000 orang tewas dalam protes tersebut dan lebih dari 11.000 laporan kematian lainnya masih ditinjau.
Radan mengonfirmasi bahwa kepolisian bersama pasukan Basij telah melakukan patroli intensif di jalan-jalan Tehran dan kota-kota lain di seluruh penjuru Iran selama 12 hari terakhir, terhitung sejak dimulainya perang dengan AS-Israel.
Pasukan Basij terpantau rutin mendirikan pos pemeriksaan bersenjata berat di berbagai titik strategis, terutama di akses menuju markas kepolisian, IRGC, dan fasilitas militer lainnya.
Siaran media pemerintah pekan ini juga menampilkan kendaraan lapis baja dan pasukan keamanan bertopeng dalam demonstrasi jalanan yang menyerukan pembalasan atas kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, sekaligus memberikan peringatan keras terhadap munculnya sentimen anti-pemerintah.
Di sisi lain, militer Israel mengindikasikan bahwa fase konflik berikutnya kemungkinan akan menargetkan langsung pasukan Basij di tingkat bawah.
Seorang perwakilan tentara Israel yang berbicara dalam bahasa Farsi merilis pesan video bagi para ibu dari anggota muda Basij dan IRGC, menyatakan bahwa satu-satunya cara menyelamatkan putra mereka dari serangan udara adalah dengan meyakinkan mereka untuk segera meletakkan senjata.
| Baca Juga: Trump Sebut 32.000 Orang Tewas dalam Protes Iran, Teheran Bantah |
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pesannya kepada rakyat Iran mengeklaim bahwa para pemimpin Iran saat ini sedang dalam pelarian dan tidak memiliki tempat untuk bersembunyi.
Ia menjanjikan bahwa dalam beberapa hari ke depan, Israel akan menciptakan kondisi yang memungkinkan rakyat Iran untuk “menentukan nasib mereka sendiri”.
Di Tehran dan kota-kota lainnya pada Rabu, IRGC beserta angkatan bersenjata menggelar prosesi pemakaman bagi para komandan yang gugur dalam peperangan.

Serangan di depot minyak Teheran, Iran, 6 Maret 2026. (X/Vahid Online)
Pada sore harinya, dilaporkan terjadi serangan udara baru di ibu kota, yang salah satunya menargetkan gedung administrasi Bank Sepah—lembaga yang mengelola rekening angkatan bersenjata. Media pemerintah melaporkan adanya jumlah korban yang "sangat tinggi" tanpa memberikan rincian angka yang pasti.
Otoritas Iran mengklaim bahwa sebagian besar dari 1.250 korban tewas dalam perang ini adalah warga sipil, seraya mengecam pengeboman AS dan Israel terhadap fasilitas publik seperti rumah sakit, sekolah, dan situs bersejarah.
Sebaliknya, tentara Israel mengeklaim telah menewaskan lebih dari 1.900 personel dan komandan militer, tanpa memberikan keterangan resmi mengenai korban di kalangan sipil.
Di lain pihak, Organisasi Kurdi-Iran, Hengaw yang berbasis di Norwegia melaporkan total korban perang mencapai 4.300 orang dengan 3.910 korban diantaranya merupakan pasukan militer di 10 hari pertama perang.
Perang ini merupakan konflik besar kedua dalam kurun waktu kurang dari satu tahun bagi sekitar 90 juta warga Iran, yang kini juga menghadapi pemutusan akses internet hampir total secara nasional selama 12 hari.
Seorang presenter televisi pemerintah bahkan mengeluarkan ancaman bagi warga Iran, baik di dalam maupun luar negeri, yang mendukung pihak Barat. Ia memperingatkan bahwa konsekuensi yang dihadapi bisa jauh lebih berat daripada sekadar penyitaan aset properti.