Presiden Prabowo Subianto menyerahkan sejumlah Alutsista kepada TNI. Foto: Dok. BPMI Sekretariat Presiden.
Pembelian Pesawat Rafale Dinilai Jadi Langkah Pemerintah Diversifikasi Alutsista
Gabriella Thesa Widiari • 18 May 2026 12:37
Jakarta: Pemerintah melalui Kementerian Pertahanan (Kemenhan) tercatat telah memborong 42 jet tempur Rafale buatan Dassault Aviation Prancis,setelah kontrak pembelian tahap ketiga untuk 18 unit terakhir efektif. Pengamat militer Chappy Hakim menilai, langkah ini sebagai upaya melepaskan diri dari ketergantungan sumber persenjataan tunggal.
"Kalau saya melihat, memilih Rafale ini adalah salah satu upaya kita terhindar dari ketergantungan dari satu sumber alutsista," ujar Chappy dikutip dari Metro TV, Senin, 18 Mei 2026.
Dia mengatakan, Indonesia memiliki pengalaman tak enak prihal ketergantungan pada satu negara donor alutsista. Indonesia tercatat pernah berada di posisi sulit saat dijatuhi sanksi embargo militer oleh Amerika Serikat beberapa dekade lalu.
Akibat embargo tersebut, kesiapan tempur Angkatan Udara Indonesia sempat merosot tajam karena kesulitan mendapatkan suku cadang. Menurutnya, pengalaman pahit itulah yang memicu reposisi strategi pertahanan untuk melakukan diversifikasi alutsista.
"Dari pengalaman itu, kemudian kita berpikir bahwa memang betul kita tidak bisa atau tidak boleh bergantung pada satu sumber saja. Jadi kita harus mendiversifikasikan, mencari sumber lain," kata mantan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) itu.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto resmi menyerahkan sejumlah alat utama sistem persenjataan (alutsista) mutakhir kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Penambahan kekuatan matra udara ini meliputi enam unit pesawat tempur MRCA Rafale, enam pesawat Falcon 8X, dua pesawat angkut A400M MRTT, serta sistem persenjataan radar GCI GM403.
Penerimaan ini merupakan bagian dan program modernisasi alutsista nasional yang diinisiasi oleh Prabowo pada saat menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
(1).jpeg)
Presiden Prabowo Subianto secara resmi menyerahkan sejumlah alat utama sistem persenjataan (alutsista) mutakhir kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Foto: Dok. BPMI Sekretariat Presiden.
Adapun, pesawat tempur Rafale menghadirkan peningkatan signifikan pada kemampuan tempur udara ke udara dan udara ke darat. Terutama dengan dukungan rudal jarak jauh Meteor dan amunisi presisi Hammer, yang memperkuat daya tangkal nasional.
Sementara, Falcon 8X memberikan fleksibilitas dalam mendukung mobilitas strategis, misi komando, serta pengawasan.
Sedangkan, A400M MRTT menjadi elemen kunci dalam meningkatkan kemampuan angkut strategis dan pengisian bahan bakar di udara (air to air refuelling), yang memungkinkan operasi udara jarak jauh dengan jangkauan dan durasi yang lebih tinggi.
Lalu, Radar GCI GM403 merupakan mata dan telinga dalam rangka deteksi dini terhadap ancaman dari udara serta untuk mengarahkan pesawat tempur menuju sasaran yang melanggar kedaulatan negara di udara.
Kepala Negara menegaskan bahwa kedatangan alutsista generasi terbaru ini menjadi momentum penting dalam modernisasi pertahanan udara nasional. Langkah ini diambil bukan untuk memicu ketegangan dengan negara lain, melainkan murni sebagai benteng perlindungan kedaulatan tanah air.
"Saya kira salah satu tonggak penambahan kekuatan kita harus terus tingkatkan kekuatan pertahanan kita, sebagai penangkal, sebagai deterrent. Kita tidak punya kepentingan selain untuk menjaga wilayah kita sendiri," jelas Prabowo dikutip dalam tayangan Breaking News Metro TV, Senin, 18 Mei 2026.