Dewan Redaksi Media Group, Abdul Kohar. Foto: Media Indonesia (MI)/Ebet.
Podium Media Indonesia
Jabatan
Abdul Kohar, Media Indonesia • 11 May 2026 05:49
Bagi banyak orang, jabatan itu 'segalanya'. Ia penting, bergengsi, atribut sosial, juga menentukan ketundukan. Telunjuknya, ucapannya, dan perintahnya mandi, kata orang Jawa. Dalam bahasa lain, mandi itu manjur, bertenaga, tak boleh dibantah.
Namun, bagi sebagian kecil orang, jabatan itu amanat berat. Ia tak bisa dijalankan sembarangan. Sumpahnya wajib ditaati. Jabatan itu pengabdian, melayani, bahkan pengorbanan. Ada kesalahan kecil saja, atau ketidaksesuaian dengan prinsip dan hati nurani, mereka akan mundur.
Joe Kent, Direktur National Counterterrorism Center (NCTC), lembaga kontraterorisme yang penting dalam komunitas intelijen Amerika Serikat, misalnya, termasuk yang sedikit itu. Ia sebelumnya juga merupakan mantan perwira CIA. Kent resmi mengundurkan diri pada 17 Maret 2026.
Baca Juga :
Podium MI: Pengkhianatan di Pesantren
Pengunduran diri itu terkait dengan ketidaksetujuannya terhadap kebijakan perang AS terhadap Iran yang digencarkan Presiden Donald Trump.
Ia menyatakan Iran tidak menimbulkan ancaman langsung bagi AS dan menolak mendukung perang tersebut 'secara hati nurani'.
Setelah mundur, ia bahkan diselidiki FBI terkait dengan dugaan kebocoran informasi rahasia. Toh ia bergeming. Perbedaan pandangan soal perang dan kebijakan luar negeri Trump menyebabkan ia mengikuti hati nurani. Baginya, jabatan dan karier tak bisa ditukar dengan idealisme.
Kent mengajarkan kearifan tempo dulu, bahwa pada mulanya jabatan itu tidak dicari. Ia datang seperti hujan yang kadang deras, kadang rintik, dan sering kali tidak sesuai dengan ramalan. Bisa saja seperti badai bila muncul kasus.
Kent mirip orang zaman dulu, yang menerima jabatan dengan setengah ragu. Ia khawatir tidak sanggup, takut keliru, dan lebih takut lagi kalau-kalau orang lain kecewa. Karena itu, jabatan bagi orang dulu dipikul seperti karung beras yang terasa berat, tetapi harus dijaga agar tidak tumpah.
Sekarang, kecuali di tangan Kent, jabatan lebih mirip balon udara. Ringan diucapkan, tinggi diimpikan, dan siapa saja ingin naik meski belum tentu tahu cara mendarat. Kent bukan tipe seperti itu. Di belahan lain, masih ada juga yang seperti Kent.

Ilustrasi pekerja. Foto: Dok. Antara.
Jabatan dulu ada barangkali dari kebutuhan untuk menata. Ketika orang banyak berkumpul, harus ada yang menunjuk arah meski arah itu nanti bisa diperdebatkan. Karena itu, dipilihlah seseorang yang paling tua, paling bijak, atau paling tidak sibuk. Dari situlah jabatan lahir sebagai alat, bukan tujuan.
Namun, alat yang terlalu lama dipegang bisa berubah menjadi perhiasan. Ia dipoles, dipamerkan, dan, kalau perlu, diperebutkan. Bahkan, memperebutkannya dengan berbagai cara, dari yang anggun sampai culas.
Jabatan kemudian bukan lagi sekadar tugas, melainkan juga identitas. Orang memperkenalkan diri tidak dengan namanya, tetapi dengan kursinya. Seolah-olah kursi itu lebih dulu ada daripada orangnya.
Menariknya, kursi jabatan tidak pernah benar-benar kosong. Begitu satu orang bangkit, yang lain sudah setengah duduk. Seolah-olah kursi itu punya daya tarik gravitasi yang lebih kuat daripada bumi.
Ada pula yang menganggap jabatan sebagai warisan. Bukan karena tertulis dalam kitab apa pun, melainkan karena kebiasaan yang diulang-ulang hingga tampak seperti hukum alam. Padahal, kalau ditanya asal usulnya, jawabannya sering menguap di antara kalimat 'sudah biasa' dan 'memang begitu'.
Yang lebih menarik lagi ialah cara orang mempertahankan jabatan. Ada yang bekerja keras agar pantas, ada yang bekerja keras agar terlihat pantas, dan ada pula yang cukup bekerja keras agar orang lain tampak tidak pantas.
Di sinilah jabatan mulai kehilangan asal usulnya. Ia tidak lagi lahir dari kebutuhan, tetapi dari keinginan untuk diakui. Ia tidak lagi dipikul, teatpi diduduki.
Padahal, kalau kita mau jujur sebentar saja, jabatan itu hanyalah titipan waktu. Ia datang tanpa undangan resmi dan pergi tanpa perlu diantar.
Namun, kejujuran memang jarang bertahan lama di dekat kursi empuk. Yang bertahan justru keyakinan bahwa tanpa jabatan, dunia akan berhenti berputar meski faktanya, dunia tetap berjalan bahkan ketika kita sedang sibuk mencari tempat duduk.
Karena itu, barangkali asal usul jabatan yang paling jujur bukanlah kebutuhan atau kehormatan, melainkan harapan sederhana manusia untuk ingin sedikit lebih didengar, sedikit lebih dilihat, dan kalau memungkinkan, sedikit lebih lama duduk.
Sisanya hanyalah cerita. Seperti banyak cerita lainnya, ia akan diulang-ulang sampai kita lupa mana yang asal usul, mana yang alasan. Namun, Kent menolak lupa. Karena itu, ia pergi, menjauhi kursi, mendekat ke nurani.