Pasar Global Agen AI Otonom Ditaksir Mencapai USD8,5 Miliar pada 2026

Ilustrasi penggunaan AI. Foto: dok Deloitte.

Pasar Global Agen AI Otonom Ditaksir Mencapai USD8,5 Miliar pada 2026

Ade Hapsari Lestarini • 27 July 2026 17:49

Jakarta: Deloitte mendorong operator telekomunikasi di Indonesia mempercepat implementasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) ke dalam operasional bisnis. Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kualitas layanan pelanggan, menekan biaya operasional, sekaligus memperkuat daya saing di tengah pesatnya digitalisasi.

Dalam laporan 2026 Technology, Media & Telecommunications Predictions, Deloitte menilai tantangan industri telekomunikasi kini tidak hanya berasal dari aspek teknis, tetapi juga tekanan bisnis. Rendahnya loyalitas pelanggan dan tingginya tingkat perpindahan pelanggan (churn) menjadi tantangan yang harus dihadapi operator.

Deloitte mencatat sebanyak 77 persen konsumen secara global tidak memiliki loyalitas yang kuat terhadap penyedia layanan telekomunikasi. Hanya 47 persen yang bertahan menggunakan operator yang sama selama lebih dari lima tahun, sementara tingkat churn industri mencapai sekitar 22 persen per tahun. Di sisi lain, 86 persen konsumen mengaku bersedia membayar lebih untuk memperoleh pengalaman layanan yang lebih baik.

"Di tengah ekonomi digital Indonesia yang tumbuh cepat, pertanyaannya bukan lagi apakah operator akan mengadopsi AI, melainkan apakah mereka cukup disiplin menerapkannya dalam operasional. Di banyak negara, terlalu banyak operator yang berhenti pada tahap uji coba. Persoalannya bukan pada inovasi, melainkan disiplin eksekusi," kata Technology, Media & Telecommunications Industry Leader, Strategy, Risk & Transactions Deloitte Asia Tenggara, Piyush Jain, dalam keterangan tertulis, Senin, 27 Juli 2026.

Menurut Deloitte, pendekatan agentic AI menawarkan kemampuan yang lebih luas dibandingkan AI konvensional. Teknologi tersebut tidak hanya membantu menyelesaikan satu tugas, tetapi juga mampu mengoordinasikan proses kerja, menjalankan alur operasional, dan menyelesaikan persoalan lintas fungsi secara otomatis.


Ilustrasi. Foto: dok Deloitte.
 

Pasar global agen AI otonom akan mencapai USD8,5 miliar pada 2026


Deloitte memperkirakan pasar global agen AI otonom akan mencapai USD8,5 miliar pada 2026 dan meningkat menjadi USD35 miliar pada 2030. Nilainya bahkan berpotensi mencapai USD45 miliar bagi organisasi yang mampu mengintegrasikan agen AI secara efektif ke dalam proses bisnis.

Director Monitor Deloitte Asia Tenggara Aditya Shankar mengatakan operator telekomunikasi perlu membangun ekosistem AI yang terintegrasi agar implementasinya tidak berhenti sebagai proyek percobaan.

"Operator memerlukan jaringan mitra yang saling terhubung, inisiatif yang dirancang untuk berjalan penuh sejak awal, serta tim yang memiliki ruang berinovasi dengan tata kelola yang jelas terkait biaya, risiko, dan kepatuhan. Dalam 12 hingga 18 bulan ke depan, operator yang berhasil membangun kemampuan tersebut akan memiliki keunggulan kompetitif yang sulit ditiru," ujar Aditya.

Deloitte menilai sejumlah operator di Indonesia telah menunjukkan kemajuan dalam pemanfaatan AI. Salah satunya telah menerapkan lebih dari 100 use case AI pada operasi jaringan dan layanan pelanggan untuk membantu mengurangi gangguan, mempercepat respons layanan, serta menekan biaya operasional. Operator lain juga mulai mengembangkan model AI-native dengan mengintegrasikan AI ke dalam infrastruktur dan layanannya.

Perkembangan tersebut sejalan dengan upaya pemerintah menyusun Peraturan Presiden mengenai Peta Jalan AI Nasional yang ditargetkan terbit pada 2026. Regulasi tersebut akan dilengkapi pedoman etika dan keamanan AI sebagai acuan bagi pelaku usaha dalam menerapkan tata kelola teknologi kecerdasan buatan.

(Ade Hapsari Lestarini)