Pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkejut Trump batal serang Iran. Foto: Anadolu
Israel Terkejut Trump Batalkan Serangan Militer Terhadap Wilayah Iran
Muhammad Reyhansyah • 12 June 2026 11:25
Tel Aviv: Pemerintah Israel dilaporkan terkejut dengan keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatalkan serangan yang sebelumnya dijadwalkan terhadap Iran.
Menurut laporan media Israel, Channel 12, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sedang menghadiri rapat kabinet ketika menerima informasi mengenai pengumuman Trump tersebut.
Baca Juga :
Sementara itu, CNN mengutip seorang sumber Israel yang mengatakan Netanyahu secara khusus terkejut dengan pernyataan Trump mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Iran dalam waktu dekat.
"Israel tidak mengetahui adanya kesepakatan yang akan segera tercapai dengan Iran maupun adanya persetujuan terhadap kesepakatan semacam itu," kata sumber tersebut, dikutip dari Yeni Safak, Jumat, 12 Juni 2026.
Ketidaktahuan Israel terhadap langkah Washington memunculkan spekulasi mengenai perbedaan pendekatan antara kedua sekutu tersebut dalam menangani krisis dengan Iran.
Jalur Diplomasi Mengalami Kemajuan
Trump pada Kamis dini hari, mengatakan dirinya memutuskan membatalkan serangan yang dijadwalkan berlangsung pada malam hari karena adanya perkembangan positif dalam jalur diplomasi."Dengan mempertimbangkan bahwa diskusi dengan Republik Islam Iran telah dibawa ke tingkat tertinggi kepemimpinan Iran dan telah disetujui, saya sebagai Presiden Amerika Serikat membatalkan serangan dan pemboman yang dijadwalkan malam ini terhadap Iran," tulis Trump di Truth Social.
Trump juga mengklaim bahwa proses pembicaraan tersebut telah mendapat persetujuan dari berbagai pihak, termasuk Amerika Serikat, Israel, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Turki, Pakistan, Bahrain, Kuwait, Yordania, Mesir, dan sejumlah negara lainnya.
Meski membatalkan serangan, Trump menegaskan blokade angkatan laut terhadap Iran akan tetap diberlakukan hingga kesepakatan yang sedang dibahas benar-benar tercapai.
Keputusan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan setelah pasukan Amerika Serikat melanjutkan serangan terhadap target-target Iran selama dua hari berturut-turut menyusul insiden jatuhnya helikopter Apache AS di dekat Selat Hormuz.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang 18 target militer Amerika Serikat di kawasan, termasuk pangkalan Ali Al Salem dan Ahmad Al Jaber di Kuwait, Pangkalan Sheikh Isa di Bahrain, serta sebuah pangkalan yang digunakan jet tempur AS di Yordania.
Iran juga telah mengambil langkah untuk menutup Selat Hormuz bagi lalu lintas maritim, yang berpotensi meningkatkan ketegangan dan mengganggu perdagangan energi global.