Asal-Usul Maulid Nabi Muhammad, Benarkah Berasal dari Tradisi Syiah?

Perayaan Maulid di Turki. (Anadolu)

Asal-Usul Maulid Nabi Muhammad, Benarkah Berasal dari Tradisi Syiah?

Riza Aslam Khaeron • 22 August 2026 21:24

Jakarta: Umat Muslim sebentar lagi akan merayakan Hari Raya Maulid Nabi Muhammad pada Selasa, 25 Agustus 2026, yang bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah.

Perayaan ini biasanya disambut meriah dengan pesta rakyat, makan bersama, maupun ibadah sunah seperti membaca shalawat.

Namun, tidak sedikit pihak yang menentang perayaan hari kelahiran Rasulullah tersebut. Beberapa kritik dan oposisi, terutama dari beberapa kalangan Muslim Sunni, menentang tradisi ini dengan mengungkit dugaan akar tradisi Syiah di dalamnya.

“Para sahabat tidak melakukannya (maulid) bersama Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, atau lainnya, bahkan pada generasi terbaik: generasi pertama, kedua, dan ketiga,” ucap mendiang Grand Mufti Arab Saudi, Abdulaziz ibn Abdullah Al Baz (Ibnu Baz), ketika menjawab pertanyaan jamaah, mengutip laman binbaz.org.sa.

“Sebaliknya, hal itu terjadi pada generasi keempat melalui Dinasti Fatimiyah Syiah, kemudian berlanjut pada beberapa raja setelahnya, lalu menyebar di kalangan manusia, dan sebagian dari mereka saling meniru. Dan itu adalah sebuah bid'ah,” tambahnya.

Lantas, benarkah hal tersebut? Berikut ulasan terkait asal-usul Maulid Nabi berdasarkan catatan sejarah.
 

Asal-Usul Maulid Nabi


Ilustrasi freepik

Mengutip studi Abd. Hadi dkk. (2024) yang dipublikasikan dalam Jurnal Pendidikan Islam dan Isu-isu Sosial, cerita populer di tengah masyarakat Muslim, khususnya di Indonesia, sering mengaitkan asal-usul peringatan Maulid dengan perjuangan politik dan militer Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (Saladin) dari Dinasti Ayyubiyah di Mesir pada abad ke-12 Masehi.

Namun, berdasarkan laporan sejarah mengenai asal-usul perayaan Maulid, narasi mengenai Salahuddin tersebut dinilai kurang akurat dan tidak memiliki bukti kuat. Narasi itu hanya merujuk pada perkembangan lanjutan festival keagamaan ini di tangan kelompok Sunni di bawah Dinasti Ayyubiyah.

Berdasarkan buku Muhammad's Birthday Festival (1993) karya N.J.G. Kaptein, sumber tertulis tertua yang mencatat perayaan Maulid adalah karya Ibnu al-Ma’mun (meninggal 30 Mei 1192 M). Ia hidup pada masa Dinasti Fatimiyah, sebuah dinasti berpaham Syiah Ismailiyah di Mesir yang berkuasa pada 973–1171 M.

Meskipun karya asli Ibnu al-Ma’mun kini telah hilang, tulisannya berulang kali dikutip oleh sejarawan Muslim abad pertengahan, salah satunya al-Maqrizi (1364–1442 M) dalam bukunya, Khitat.

“Selanjutnya ia (Ibn al-Ma’mun, pada tahun 517 H/1123 M) menulis: bulan Rabiul Awal telah tiba, dan kita akan memulai dengan hal yang membuat bulan tersebut termasyhur, yaitu merujuk pada hari kelahiran Junjungan Orang-Orang Pertama dan Terakhir, Muhammad, pada hari ke-13 (Rabiul Awal)” tulis al-Maqrizi dalam Khitat halaman 432–433.

Berdasarkan catatan Ibnu al-Ma’mun, perayaan Maulid pada masa itu tidak hanya diperuntukkan bagi Nabi Muhammad SAW, melainkan juga mencakup peringatan ulang tahun Ali bin Abi Thalib (khalifah keempat menurut Sunni sekaligus imam pertama menurut Syiah), Fatimah (putri Nabi dan istri Ali), serta imam Syiah yang berkuasa saat itu.

Catatan tersebut tercantum dalam tulisan Ibnu al-Ma’mun mengenai kebijakan wazir (perdana menteri) Mesir pada kurun 1094–1121 M terkait penghapusan empat peringatan Maulid. Kendati demikian, rentang waktu pasti kapan perayaan Maulid mulai dilakukan oleh Dinasti Fatimiyah secara presisi belum diketahui.
 

Akar Tradisi Syiah 12 Imam

Sementara itu, Marion Holmes Katz dalam bukunya The Birth of the Prophet Muhammad (2007) berargumen bahwa akar tradisi Maulid sudah ada sebelum perayaan paling maulid di Dinasti Fatimiyah yang tertulis.

Katz menyatakan tradisi ini berasal dari lingkaran Syiah Dua Belas Imam (Imami), sebagaimana tercatat dalam karya ulama al-Shaykh al-Mufid (meninggal 1022 M).

“Tanggal tujuh belas Rabiul Awal adalah hari kelahiran (mawlid) junjungan kita, Rasulullah, pada terbit fajar hari Jumat di Tahun Gajah. Ini adalah hari mulia yang penuh keberkahan; sejak masa-masa awal, kaum Syiah selalu memuliakannya, mengakui haknya, dan menghormati kesuciannya dengan berpuasa secara sukarela pada hari tersebut,” tulis al-Mufid dalam bukunya Hada’iq al-riyad wa-zahrat al-murtad wa-nur al-mustarshid, sebagaimana dikutip Katz.

Dalam catatannya, al-Mufid merujuk pada hadis dari imam ke-10 Syiah, Ali al-Hadi, mengenai anjuran berpuasa pada hari yang dianggap sebagai kelahiran Nabi Muhammad SAW setiap tanggal 17 Rabiul Awal.
   

Kapan Tradisi Ini Masuk ke Lingkaran Sunni?

Kaptein berhipotesis bahwa perayaan Maulid yang diawali oleh Dinasti Fatimiyah kemudian meluas ke wilayah Suriah dan Al-Jazira menjelang atau saat runtuhnya dinasti tersebut. Praktik ini lantas diadopsi dan menyebar di kalangan umat Sunni.

Menurut Kaptein, perayaan Maulid tertua di kalangan Sunni dicatat dilakukan oleh penguasa tersohor asal Suriah, Nur al-Din Zangi (1118–1174 M), dengan catatan tertua perayaan Nur al-Din berasal dari puisi karya sejarawan Damaskus abad ke-13, Abu Shama.

Tokoh berikutnya di kalangan Sunni yang diketahui biasa merayakan Maulid adalah seorang syekh dari Mosul bernama 'Umar al-Malla' pada paruh kedua abad ke-12 Masehi.

Tradisi ini kemudian menyebar hingga ke Mekkah. Hal ini terekam dalam catatan perjalanan penjelajah asal Andalusia, Ibnu Jubair(1145–1217 M), yang ditulis pada 1183 M.

“Tempat penuh berkah ini dibuka, dan seluruh orang memasukinya untuk mengambil keberkahan dengannya (mutabarrakina bihi) pada setiap hari Senin di bulan Rabiul Awal. Sebab pada hari dan bulan itulah Nabi, semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepadanya, dilahirkan. Semua tempat yang disebutkan dibuka pada hari itu, yang senantiasa tersohor di Mekkah,” tulis Ibn Jubayr sebagaimana dikutip Kaptein.

Selain di Mekkah, perayaan serupa juga diselenggarakan oleh Muzaffar al-Din Gokbori, penguasa wilayah Irbil dari Dinasti Begteginid. Menurut Katz, perayaan besar-besaran yang digagas oleh para penguasa tersebut menjadi faktor pendorong utama meluasnya tradisi Maulid di berbagai penjuru dunia Muslim Sunni.

(Riza Aslam Khaeron)