Sri Lanka Tetapkan Status Darurat usai Siklon Ditwah Tewaskan 153 Orang

Banjir yang dipicu terjangan Siklon Ditwah melanda sejumlah wilayah Sri Lanka. (Anadolu Agency)

Sri Lanka Tetapkan Status Darurat usai Siklon Ditwah Tewaskan 153 Orang

Willy Haryono • 30 November 2025 08:55

Kolombo: Sri Lanka menetapkan status darurat nasional dan mengajukan permintaan bantuan internasional setelah jumlah korban tewas akibat banjir dan tanah longsor yang dipicu Siklon Ditwah bertambah menjadi 153 orang, dengan 191 lainnya masih dinyatakan hilang.

Pusat Manajemen Bencana Sri Lanka (DMC) melaporkan, cuaca ekstrem telah menghancurkan lebih dari 20.000 rumah dan memaksa 108.000 warga mengungsi ke tempat penampungan sementara yang dikelola pemerintah.

Sebanyak 798.000 orang lainnya juga membutuhkan bantuan setelah terdampak dan sempat mengungsi akibat banjir, kata juru bicara DMC, Pradeep Kodippili.

Dikutip dari nzherald.co.nz, Minggu, 30 November 2025, Presiden Sri Lanka Anura Kumara Dissanayake mengaktifkan kewenangan darurat yang memberinya wewenang luas untuk menangani dampak kehancuran akibat hujan deras yang mengguyur pulau tersebut selama sepekan terakhir. Kodippili memastikan bahwa jumlah korban tewas telah mencapai 153 orang.

Di antara korban tewas tersebut, terdapat 11 penghuni panti jompo yang terendam banjir di distrik Kurunegala, wilayah utara-tengah Sri Lanka, pada Sabtu sore waktu setempat, menurut keterangan polisi.

Pasukan dari Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara Sri Lanka dikerahkan bersama pekerja sipil serta para relawan untuk membantu upaya penyelamatan dan distribusi bantuan.

Militer berhasil mengevakuasi 69 penumpang bus pada Sabtu, termasuk seorang wisatawan asal Jerman, yang terjebak di distrik Anuradhapura setelah operasi penyelamatan selama 24 jam.

Salah satu penumpang, yang memberikan kesaksian dari rumah sakit, menceritakan bagaimana para pelaut Angkatan Laut membantu mereka memanjat ke atap sebuah rumah di dekat lokasi setelah menggunakan tali untuk menuntun mereka melewati arus banjir.

“Kami sangat beruntung… saat kami berada di atap, sebagian atap itu runtuh… tiga perempuan terjatuh ke air, tetapi mereka berhasil ditarik kembali ke atas,” kata W. M. Shantha.

Bencana Alam Paling Mematikan

Upaya evakuasi awal menggunakan helikopter sempat dibatalkan karena hembusan baling-baling helikopter dikhawatirkan dapat merobohkan atap tempat para korban berlindung. Mereka kemudian berhasil diselamatkan menggunakan perahu Angkatan Laut.

Sementara itu, akses jalan di distrik Badulla, wilayah tengah Sri Lanka, masih terputus sehingga banyak desa terisolasi dan bantuan darurat belum dapat menjangkau lokasi terdampak.

“Kami kehilangan dua orang di desa kami… warga lainnya berlindung di sebuah kuil dan satu rumah yang masih berdiri,” ujar Saman Kumara dari Desa Maspanna, Distrik Badulla, salah satu wilayah yang paling parah terdampak.

“Kami tidak bisa keluar dari desa, dan tidak ada yang bisa masuk karena semua jalan tertutup longsor. Kami tidak punya makanan, dan persediaan air bersih semakin menipis,” katanya kepada situs News Centre melalui sambungan telepon.

Siklon Ditwah kini tercatat sebagai bencana alam paling mematikan di Sri Lanka sejak 2017, ketika banjir dan tanah longsor menewaskan lebih dari 200 orang serta memaksa ratusan ribu penduduk mengungsi.

Banjir terburuk sejak pergantian abad terjadi pada Juni 2003, yang menewaskan 254 orang.

Baca juga:  Siklon Ditwah Tewaskan 56 Orang di Sri Lanka dan 23 Lainnya Hilang

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
Viral!, 18 Kampus ternama memberikan beasiswa full sampai lulus untuk S1 dan S2 di Beasiswa OSC. Info lebih lengkap klik : osc.medcom.id
(Willy Haryono)