MUI DKI Jakarta menyelenggarakan Sarasehan Ulama bertajuk Ekoteologi & Keberlanjutan Indonesia. Foto: Istimewa.
Paradigma Penanganan Sampah Mesti Terpusat di Hulu
Anggi Tondi Martaon • 25 June 2026 21:57
Jakarta: Paradigma penanganan sampah harus diubah. Pengelolaan sampah harus bergeser dari sekadar mengolah jadi mencegah timbulnya sampah sejak sumbernya.
"Kebijakan yang baik bukan yang paling banyak mengelola sampah, melainkan yang paling berhasil mengurangi lahirnya sampah sejak dari hulu," Direktur Badan Pelaksana Pendidikan Kader Ulama (PKU) MUI DKI Jakarta, Muladi Mughni, melalui keterangan tertulis, Kamis, 25 Juni 2026.
Hal itu disampaikan Muladi dalam Sarasehan Ulama bertajuk Ekoteologi & Keberlanjutan Indonesia. Kegiatan yang diselenggarakan MUI DKI Jakarta bersama Indonesia Sustainability Movement (Inamove) mempertemukan ulama, akademisi, praktisi industri, dan pakar kebijakan publik untuk membedah persoalan krisis sampah nasional dari perspektif agama, teknologi, ekonomi, hingga tata kelola pemerintahan. Sejumlah pihak yang hadir yaitu praktisi rancang bangun industri Edy Sutrisman MM dan Mantan Komisioner Ombudsman RI, Ahmad Alamsyah Saragih.
Menurut Muladi, prinsip tersebut merupakan konsep Fikih Ma'alat. Yakni, pendekatan yang menilai suatu kebijakan berdasarkan dampak jangka panjangnya terhadap masyarakat.
Oleh karena itu, pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 109 mendorong pengembangan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Hal itu bagian dari upaya mengembalikan kualitas lingkungan sekaligus mengurangi emisi.
Menurut Fadli, teknologi PSEL mampu menekan emisi hingga 80 persen dibandingkan sistem pembuangan terbuka (open dumping). Program tersebut direncanakan dibangun di 31 lokasi, dengan tahap awal di Bali, Bekasi, dan Solo.
Sementara itu, Peneliti Lingkungan Senior Institut Pertanian Bogor, Kiman Siregar, menekankan pentingnya penggunaan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA) dalam setiap kebijakan pengelolaan sampah. Menurut dia, narasi mengenai pengolahan sampah perlu diubah dari sekadar membakar sampah menjadi mereduksi karbon agar memiliki nilai ekonomi hijau yang lebih jelas.

Ilustrasi sampah. Foto: Medcom.id.
Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan sampah oleh pelaku usaha kecil, BUMD, maupun berbagai lembaga pengelola dinilai berpotensi memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendukung target penurunan emisi nasional.
Sarasehan Ulama Ekoteologi & Keberlanjutan Indonesia menyimpulkan bahwa penyelesaian krisis sampah nasional tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. Diperlukan sinergi antara penguatan literasi budaya dan keagamaan (tarbiah), penerapan teknologi yang tepat guna, serta kebijakan pemerintah yang transparan, akuntabel, dan berpihak pada kepentingan masyarakat. Sehingga, pengelolaan sampah benar-benar menghadirkan keberlanjutan bagi Indonesia.