Imbas Konflik Timur Tengah, Harga BBM di Kamboja Merangkak Naik

SPBU di Kamboja. Foto: The Straits Times.

Imbas Konflik Timur Tengah, Harga BBM di Kamboja Merangkak Naik

Husen Miftahudin • 1 April 2026 15:40

Phnom Penh: Kementerian Perdagangan Kamboja mengatakan harga bahan bakar minyak (BBM) di negara Kamboja naik secara terus menerus. Kenaikan ini sebagai dampak dari perang yang berkelanjutan di Timur Tengah.

Mengutip Xinhua, Rabu, 1 April 2026, Kemendag Kamboja mengungkapkan bensin biasa akan naik mencapai 5.450 riel atau sekitar Rp23.102 (kurs Rp4,24 per riel) per liternya atau USD1,36 mulai Rabu, 1 April 2026, sampai pemberitahuan berikutnya. Harga ini naik sebesar sembilan persen dari 5.000 riel (Rp21.194) per liter.

Sedangkan harga solar saat ini sudah mencapai 7.500 riel atau USD1,88 per liternya (Rp31.791), terpantau naik 4,16 persen dari harga sebelumnya yaitu 7.200 riel atau USD1,80 per liter (Rp30.520). Demikian tambahan dari pengumuman Kementerian.

Sementara itu, gas minyak bumi cair atau elpiji juga naik dengan harga 3.900 riel atau USD0,97 per liternya (Rp16.531), melonjak tinggi sebesar 14,7 persen dari sebelumnya yang hanya 3.400 riel atau USD0,85 per liter (Rp14.412).
 
Baca juga: Pemerintah Batasi Pembelian BBM 50 Liter Setiap Kendaraan Per Hari


(Ilustrasi BBM. Foto: dok MI/Panca Syurkani)
 

Gegara meningkatnya eskalasi konflik Timteng


Sejak dimulainya eskalasi konflik di Timur Tengah (Timteng) ini memberikan dampak pada bensin biasa, solar, serta elpiji di kamboja yang terus meningkat, masing-masing telah naik sebesar 41,5 persen, 94,8 persen, dan 95 persen, kata dari Kementerian Perdagangan Kamboja.

Menanggapi geopolitik dunia, Pemerintah Kamboja menerapkan langkah-langkah strategis untuk mengurangi efek dari naik harga minyak dunia dengan menurunkan bea impor dan juga pajak dari produksi bahan bakar minyak mulai 20 Maret 2026.

Pada Sabtu, 28 Maret 2026, Pemerintah Kamboja mengeluarkan putusan untuk kendaraan-kendaraan bertenaga listrik, kompor listrik, dan perangkat yang menggunakan tenaga surya agar dikurangi harga bea impor.

Negeri Angkor Wat ini sepenuhnya masih terus bergantung dari impor minyak bumi dan solar, sebab cadangan minyak yang berada di dasar lautnya belum dikelola. (Adrian Bachtiar)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)