Kasus Stunting di Kota Mataram Terendah se-NTB

Kegiatan penimbangan berat badan anak di salah satu posyandu di Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat. ANTARA/Nirkomala.

Kasus Stunting di Kota Mataram Terendah se-NTB

Silvana Febiari • 11 February 2026 10:05

Mataram: Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), menyebutkan, pada tahun 2025 ditemukan empat kasus stunting baru. Jumlah kasus tersebut merupakan temuan terendah jika dibandingkan dengan 10 kabupaten/kota lainnya di NTB.

"Alhamdulillah, kasus baru stunting kita paling kecil se-NTB, hanya empat kasus. Sementara di daerah lain ada yang mencapai 100 hingga 200 kasus," kata ?Plt Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Mataram HM Carnoto, dikutip dari Antara, Rabu, 11 Februari 2026. 

Hal tersebut disampaikannya sesuai dengan evaluasi dan rilis data kasus stunting tingkat Provinsi NTB dan untuk kasus stunting di Kota Mataram berdasarkan rilis provinsi sebesar 6,57 persen atau sekitar 1.600 balita.

"Angka stunting di Kota Mataram itu juga menjadi paling rendah se-NTB," katanya.
 


Meskipun angka stunting dan temuan baru kasus stunting di Kota Mataram merupakan yang paling kecil di NTB, namun masih ada kasus yang perlu diatasi. Oleh karena itu, dibutuhkan komitmen untuk berkolaborasi dari semua pihak dalam upaya pencegahan, terutama melalui perhatian pada keluarga berisiko stunting.

Menurutnya, adanya kasus baru stunting tersebut kemungkinan disebabkan oleh penyakit penyerta. Stunting berkaitan erat dengan dua faktor utama, yaitu konsumsi gizi dan penyakit infeksi.

"Untuk itu, stunting bisa dibagi dua jenis yakni stunting biasa dan stunting penyakit penyerta. Misalnya, penyakit pneumonia, jantung bawaan, dan penyakit lainnya," ujar dia.

Oleh karena itu, upaya intervensi yang dilakukan DP3KB dengan mengoptimalkan pemantauan sejak masa hamil atau 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) agar tidak terjadi anemia atau masalah kesehatan lain yang memicu stunting.

"Walaupun Mataram sudah di bawah target nasional 14 persen, saya pribadi punya cita-cita Mataram harus zero stunting. Jangan sampai ada anak Mataram yang stunting lagi," tuturnya.


 ilustrasi medcom.id


Strategi utama yang dijalankan untuk mencapai target zero stunting tersebut dengan memperkuat pendampingan pada keluarga berisiko stunting (KRS). "KRS masuk kriteria 4T yakni terlalu dekat (jarak kelahiran), terlalu sering (melahirkan), terlalu muda (hamil), dan terlalu tua (hamil)," ucap Carnoto.

Upaya mengejar zero stunting itu, katanya, melibatkan tim pendamping keluarga (TPK), dan penyuluh keluarga berencana (PKB). ?Pendampingan difokuskan pada tiga kelompok sasaran utama (3B) yakni ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan balita.

?"Kuncinya ada di tiga kelompok itu, dan secara keilmuan kesehatan masyarakat, tindakan preventif (pencegahan) jauh lebih penting daripada kuratif (pengobatan)," ungkapnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Silvana Febiari)