Podium Media Indonesia: El Nino Godzila

Dewan Redaksi Media Group Ahmad Punto/MI

Podium Media Indonesia: El Nino Godzila

Ahmad Punto • 8 April 2026 06:10

DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra. Ia datang tanpa permisi, mengobrak-abrik kota, dan menyisakan kepanikan. Godzilla (Gojira) yang pertama kali muncul pada 1954 dalam film produksi Toho, Jepang, itu dikisahkan sebagai reptil purba mutan yang terbangun akibat uji coba bom hidrogen.

Di dunia klimatologi, para ahli punya Godzilla versi sendiri. Mereka menyematkan istilah Godzilla di belakang El Nino, sebuah fenomena alam berupa pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik. El Nino Godzilla menggambarkan sebuah anomali ekstrem berupa intensitas musim kering yang amat kuat.

Sama seperti di film, Godzilla di bidang klimatologi juga menebar ancaman dan dampak yang dahsyat. Bedanya, ia bukan menghancurkan gedung dengan embusan napas api, melainkan perlahan-lahan mengisap air dari sumur-sumur kita, memanggang lahan sawah, dan menciptakan banyak titik api pemicu kebakaran hutan.

Kini, BMKG sudah meniup peluit peringatan. Tahun ini, kita tidak hanya berhadapan dengan musim kemarau biasa, tapi El Nino Godzilla. Data satelit menunjukkan peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tengah yang menarik awan-awan hujan menjauh dari kepulauan Indonesia.

Ini bukan ramalan klenik, melainkan kalkulasi sains yang mengirim pesan bahwa musim kemarau di mayoritas wilayah Nusantara bakal lebih kering dan durasi kekeringannya bisa melebihi rata-rata alias lebih panjang. BMKG memprediksi peluang berkembangnya El Nino Godzilla itu pada semester kedua tahun ini.
 


Pertanyaannya, seberapa siap kita menghadapi ancaman itu? Sejujurnya, yang sering menjadi masalah bukanlah pada cuaca atau iklim itu sendiri. Penyakit kronisnya ialah kita lamban dalam hal mitigasi dan antisipasi. Kita ini bangsa yang hobi terkejut dan lebih gemar menjadi pemadam kebakaran ketimbang mencegah percikan api.

Saban peringatan cuaca dirilis, respons birokrasi kerap lambat. Baru kelabakan saat sumur mengering, sawah puso, atau kabut asap mengepung dada dan menyelimuti langit negara tetangga. Tengok saja sejarah kemarau panjang pada 1997 atau 2015. Jejak mitigasi kita lebih banyak diisi kepanikan.

Di sektor pertanian, saking minimnya antisipasi, kegagalan panen menjadi tontonan lumrah. Ketahanan pangan menjadi terganggu. Alih-alih membangun kedaulatan air lewat embung yang benar-benar berfungsi sejak dini, misalnya, para pengambil kebijakan malah baru terlihat sibuk menggelar rapat koordinasi saat krisis sudah di depan pintu.

Koordinasi pemerintah pusat dan pemerintah daerah acap berjarak, bahkan ketika situasi sudah mengharuskan kita menyiapkan antisipasi sekalipun. Pemerintah daerah sering luput dari tanggung jawab. Urusan iklim dianggap semata urusan pusat. Padahal, bupati dan wali kotalah yang 'punya' wilayah, mengerti kondisi sawah, dan tahu persis di mana titik api biasa muncul.

Di sisi lain, masyarakat kita tak kalah abai. Kita mengeluh panas, tapi tetap menebang pohon. Kita protes air seret, tapi enggan menabung air saat musim hujan, malas membuat sumur resapan. Saat kemarau panjang, kita berdoa meminta hujan, tetapi ketika hujan datang, kita begitu saja membiarkan limpahan air mengalir ke laut tanpa sempat menyimpannya di dalam tanah. Kebiasaan bersikap abai yang sudah berlangsung tahunan itu membuat kesadaran kita tumpul.

Jangan lupa, lawan yang akan kita hadapi kali ini sangat berat. Ini bukan sembarang El Nino, ini El Nino Godzilla. Sesuai dengan embel-embel nama belakangnya, levelnya sudah raksasa, monster. Untuk menghadapinya, tentu dibutuhkan mitigasi yang luar biasa, tidak bisa yang biasa-biasa saja.

Sekadar edaran normatif berisi imbauan dari meja birokrasi tak lagi relevan. Apalagi cuma memasang baliho waspada kekeringan. Kita butuh eksekusi riil di lapangan. Contoh mitigasi yang konkret ialah memastikan cadangan gabah daerah aman, saluran irigasi bersih, mesin pompa air menyala saat dibutuhkan, dan infrastruktur kebencanaan siap digunakan.

Dalam situasi seperti itu, kesiapan mitigasi tidak sekadar diukur dari seberapa canggih radar atau alat pemantau di ruang kontrol. Keberhasilan mitigasi dan antisipasi akan diukur dari seberapa banyak pasokan air di lahan pertanian masih tersedia ketika puncak musim kering, seberapa minimal gangguan cuaca panas itu terhadap pasokan pangan, atau seberapa penurunan luas lahan dan hutan yang terbakar.


Dewan Redaksi Media Group Ahmad Punto/MI

Jangan sampai nanti ketika sumur mengering, udara memanas seperti bara, harga pangan melonjak akibat produksinya anjlok, kebakaran hutan di mana-mana, kita masih saja terkejut dan bertanya mengapa kemarau terasa lebih ganas?

Padahal, Godzilla sudah memberikan tanda sejak jauh hari. Kita saja yang mungkin terlalu sibuk dengan rutinitas atau terbiasa menyepelekan peringatan sehingga lupa membaca tanda-tanda alam yang sudah jelas terhampar di depan mata.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(M Sholahadhin Azhar)