Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Panjang, Menhut Ingatkan Potensi Karhutla

7 April 2026 17:23

Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni, menyebut tanda-tanda kemarau dini sudah terdeteksi sejak Januari, di wilayah Riau dan Kalimantan Barat. Kondisi ini diperkirakan akan berlanjut hingga awal Oktober mendatang.

“Ini akan terjadi kekeringan yang lebih awal dan lebih panjang, sehingga potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun ini akan lebih mengancam dibanding 2025,” ujar Raja Juli, dalam program Metro Siang Metro TV, Selasa, 7 April 2026.

Menurut Raja Juli, curah hujan yang berada di bawah normal turut memperbesar risiko karhutla. Terutama di wilayah rawan seperti Sumatra dan Kalimantan.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah menyiagakan berbagai langkah mitigasi. Mulai dari operasi modifikasi cuaca hingga pengerahan satgas darat dan udara. Upaya ini dilakukan bekerja sama dengan BNPB, termasuk penggunaan helikopter patroli dan water bombing di titik-titik rawan.
 



Sementara itu, Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa musim kemarau tahun ini diperkirakan mulai pada April hingga Mei. Puncaknya diperkirakan pada Agustus dan berakhir sekitar September hingga awal Oktober 2026.

"Dan dengan hujan rata-rata itu di bawah normal. Artinya dibandingkan musim kemarau selama 30 tahun terakhir, maka kondisi hujan di tahun ini, rata-rata 30 tahun terakhir itu musim hujan tahun ini nanti hujannya kira-kira akan lebih rendah," kata Faisal.

Pemerintah pun mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Termasuk membuka lahan dengan cara membakar, guna mencegah meluasnya bencana karhutla di musim kemarau tahun ini.

 

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Reno Panggalih Nuha Lathifah)