Ilustrasi kredit perbankan. Foto: dok MI.
BI Andalkan Kredit Perbankan Sokong Pertumbuhan Ekonomi
Husen Miftahudin • 20 May 2026 15:43
Jakarta: Bank Indonesia (BI) menyatakan akan mengandalkan kredit perbankan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional di tengah meningkatnya gejolak geopolitik yang terjadi di Timur Tengah.
"Peran kredit perbankan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi perlu terus diperkuat," tegas Perry dalam Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan Periode Mei 2026, Rabu, 20 Mei 2026.
Adapun kredit perbankan pada April 2026 tercatat tumbuh sebesar 9,98 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Maret 2026 sebesar 9,49 persen (yoy). Berdasarkan kelompok penggunaan, perkembangan ini didukung oleh kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi yang pada April 2026 masing-masing tumbuh sebesar 19,48 persen (yoy), 6,04 persen (yoy), dan 6,13 persen (yoy).
Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit 2026 tetap terjaga pada kisaran 8-12 persen. Prospek ini didukung oleh masih besarnya fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) sebesar Rp2.551,42 triliun atau 22,57 persen dari plafon kredit yang tersedia, serta memadainya kapasitas pembiayaan bank tecermin pada rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 25,39 persen dan DPK yang masih tumbuh tinggi sebesar 11,39 persen (yoy) pada April 2026.
Efisiensi suku bunga perbankan juga dapat ditingkatkan, dimana pada April 2026 suku bunga kredit tercatat sebesar 8,73 persen dan suku bunga deposito 1 bulan sebesar 4,16 persen. Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat implementasi kebijakan makroprudensial yang akomodatif antara lain melalui penguatan kebijakan RIM dan KLM untuk terus mendukung penyaluran kredit/pembiayaan perbankan.
"Koordinasi dengan Pemerintah dan KSSK juga terus diperkuat untuk memperbaiki struktur suku bunga dan mendorong pertumbuhan kredit/pembiayaan perbankan tersebut," papar Perry.
| Baca juga: Bos BI Pede Ekonomi Indonesia Bisa Tumbuh hingga 5,7% di Sepanjang 2026 |
.jpg)
(Gubernur BI Perry Warjiyo. Foto: Tangkapan layar YouTube BI)
Ketahanan perbankan tetap kuat
Sementara itu, Perry menekankan ketahanan perbankan tetap kuat untuk memitigasi risiko dampak dari perang di Timur Tengah. Perkembangan ini ditandai dengan likuiditas perbankan yang memadai, kapasitas permodalan yang terjaga pada level tinggi, dan risiko kredit yang tetap rendah.
Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan pada Maret 2026 tercatat tinggi sebesar 25,09 persen, yang tergolong kuat dalam menyerap risiko dan mendukung pertumbuhan kredit.
Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) perbankan secara agregat tetap rendah sebesar 2,14 persen (bruto) dan 0,83 persen (neto) pada Maret 2026.
Perry menjelaskan, hasil stress test Bank Indonesia menunjukkan ketahanan perbankan tetap kuat dalam menghadapi berbagai risiko, termasuk dampak rambatan berlanjutnya perang di Timur Tengah, ditopang oleh kemampuan bayar dan profitabilitas korporasi yang tetap terjaga baik.
"Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan makroprudensial dan sinergi kebijakan bersama KSSK dalam rangka turut menjaga stabilitas sistem keuangan," terang Perry.