BMKG Malang Pantau Posisi Hilal Masih Minus 1,162 Derajat

Proses pengamatan hilal yang dilakukan oleh tim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas III Malang bersama Kantor Kementerian Agama setempat di Kantor Bupati Malang, Kabupaten Malang Jawa Timur, Selasa (17/2/2026)

BMKG Malang Pantau Posisi Hilal Masih Minus 1,162 Derajat

Whisnu Mardiansyah • 17 February 2026 18:34

Malang: Tim pemantau hilal dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas III Malang menyatakan tidak melihat penampakan hilal di wilayah Malang, Jawa Timur, lantaran posisinya masih berada di bawah ufuk, Selasa, 17 Februari 2026.

"Berdasarkan hasil perhitungan, saat matahari terbenam hilal masih negatif. Hari ini kami memastikan bahwa hilal masih di bawah ufuk," kata Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang, Mamuri, seusai pengamatan di Kantor Bupati Malang, Kabupaten Malang seperti dilansir Antara, Selasa, 17 Februari 2026.

Berdasarkan data hasil rukyatul hilal atau pengamatan yang diterima dari BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang, ketinggian hilal berada di bawah 1,162 derajat dengan sudut elongasi 1,63 derajat.

Umur bulan juga berada di bawah 2 jam 52 menit 54 detik dan fraksi iluminasinya 0,00 persen. Sedangkan konjungsi atau ijtimak yang terjadi hari ini tercatat pada pukul 19.01 WIB.

Mamuri menjelaskan kondisi serupa juga terjadi di seluruh wilayah Indonesia. "Untuk tinggi hilal di Indonesia itu mulai minus 2,41 derajat di Jayapura dan minus 0,93 derajat di Tuapejat, Sumatera Barat. Artinya, di seluruh Indonesia hilal masih di bawah ufuk, tidak terlihat sore ini," ujarnya.
 


Dengan posisi tersebut, hilal dipastikan tidak memenuhi kriteria visibilitas MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) yang mensyaratkan ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Dia mengatakan data pengamatan hilal yang telah terkumpul ini selanjutnya dikirimkan ke Kementerian Agama (Kemenag) di Jakarta melalui Kantor Kementerian Agama setempat. Data dari Malang akan dijadikan satu dengan hasil pengamatan hilal dari daerah lain di Indonesia.

Dengan hasil pengamatan ini, maka awal Ramadan ditentukan melalui sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama di Jakarta untuk menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah.


Pemantauan hilal ilustrasi. Dok Metrotvnews.com

Mamuri menyampaikan timnya bersama Kementerian Agama Kabupaten Malang telah memutuskan tidak melanjutkan pemantauan hilal, mengingat waktu telah menjelang petang sehingga sudah tidak memungkinkan dilaksanakan tahapan pengamatan lebih lanjut.

"Pascamagrib dipastikan tidak terlihat karena posisi bulan bergeraknya ke bawah, karena itu tadi minus juga," ujar dia.

Masyarakat diimbau untuk menunggu pengumuman resmi pemerintah melalui sidang isbat serta tetap menjaga toleransi dan persatuan dalam menyambut bulan suci Ramadan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Whisnu M)