Benarkah Oseltamivir Efektif Atasi Influenza? Kenali Jenis dan Efek Sampingnya

Ilustrasi Oseltamivir. Foto: Istimewa

Benarkah Oseltamivir Efektif Atasi Influenza? Kenali Jenis dan Efek Sampingnya

Muhamad Marup • 29 September 2026 17:57

Jakarta: Kasus influenza di Indonesia mengalami peningkatan. Di tengah kondisi tersebut, salah satu jenis obat influenza, Oseltamivir, mengalami kelangkaan.

Kelangkaan dialami seorang ibu yang mengunggah pengalamannya melalui akun Threads. Akun @xx-moteng_xx itu menuturkan bahwa kedua anaknya positif Influenza A dan kesulitan mendapat obat Oseltamivir yang diresepkan.

Unggahan kesulitan mendapat Oseltamivir. Foto: tangkapan layar Threads/@xx_moteng_xx

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, memastikan ketersediaan obat antivirus Oseltamivir untuk penanganan influenza tipe A di berbagai rumah sakit terpantau aman. Meski stok dipastikan tersedia pemberian Oseltamivir tidak bisa dilakukan secara bebas kepada masyarakat luas.

"Obat Oseltamivir kita ada di rumah sakit. Cuma ahli juga menyampaikan tidak bisa terlalu sembarangan diberikan karena bisa mengakibatkan resistensi," ujar Budi.

Terkait adanya isu tersebut, Kemenkes juga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembelian panik (panic buying) obat antivirus Oseltamivir. Obat tersebut harus dikonsumsi sesuai resep dokter.

Mengenal Oseltamivir

Melansir alodokter.com, Oseltamivir adalah obat yang digunakan untuk mengatasi dan mencegah infeksi virus. Obat ini bisa menangani influenza tipe A atau tipe B, termasuk flu burung atau flu babi dan dapat mempercepat penyembuhan gejala flu, seperti batuk, pilek, demam, meriang, dan nyeri sendi.

Oseltamivir tergolong dalam obat antivirus yang bekerja menghambat pertumbuhan virus dan menghentikan penyebarannya di dalam tubuh. Dengan cara kerja tersebut, sistem kekebalan tubuh dapat lebih mudah dan cepat melawan virus.

Perlu diketahui bahwa pada umumnya infeksi virus bisa sembuh dengan sendirinya, terutama jika didukung dengan istirahat dan asupan nutrisi yang baik. Selain itu, Oseltamivir dapat menyebabkan efek samping serius.

Kasus Influenza di Depok Meningkat, Dinkes Ingatkan Kelompok Rentan

Ilustrasi freepik

Peringatan sebelum Menggunakan Oseltamivir

Oseltamivir hanya bisa dibeli dengan resep dokter. Sebelum menggunakan obat ini, perhatikan beberapa hal berikut:
  • Beri tahu dokter mengenai riwayat alergi yang Anda miliki. Oseltamivir tidak boleh digunakan oleh orang yang alergi terhadap obat ini.
  • Oseltamivir bukan terapi untuk menggantikan vaksin flu. Pemberian vaksinasi influenza sangat diutamakan sebagai pencegahan terhadap flu.
  • Informasikan kepada dokter jika Anda pernah atau sedang menderita penyakit jantung, penyakit ginjal, gangguan paru-paru, penyakit liver, atau daya tahan tubuh lemah, misalnya karena menderita HIV/AIDS atau mengonsumsi obat imunosupresan.
  • Diskusikan dengan dokter mengenai penggunaan Oseltamivir jika Anda sedang hamil, menyusui, atau merencanakan kehamilan.
  • Konsultasikan ke dokter jika Anda sedang menggunakan obat lain, termasuk suplemen atau produk herbal. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi terjadinya interaksi antarobat.
  • Segera temui dokter jika terjadi reaksi alergi obat atau efek samping yang serius setelah mengonsumsi Oseltamivir.

Efek Samping dan Bahaya Oseltamivir

Berikut ini adalah efek samping yang mungkin muncul setelah mengonsumsi Oseltamivir:
  • Pusing
  • Sakit kepala
  • Mual dan muntah
  • Sakit perut atau sakit maag
  • Hidung meler atau tersumbat
  • Sakit tenggorokan
  • Tubuh terasa lelah
  • Sulit tidur
  • Nyeri di tungkai
Segera periksakan diri ke dokter jika muncul reaksi alergi obat atau efek samping serius, seperti:
  • Tremor
  • Linglung mendadak
  • Halusinasi
  • Perubahan suasana hati yang drastis
  • Muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri
  • Penyakit kuning
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes, Lucia Rizka Andalucia, mengatakan, penelitian mencatat risiko efek samping muntah pada anak yang mengonsumsi Oseltamivir mencapai 1,6 kali lebih tinggi. Penggunaan antivirus secara berlebihan tanpa indikasi medis juga berisiko meningkatkan resistensi virus terhadap obat.

"Yang perlu dilakukan masyarakat bukanlah membeli obat sebanyak-banyaknya, melainkan mengenali gejala, memahami tanda bahaya, dan mencari pertolongan pada waktu yang tepat," imbau Lucia.

(Muhamad Marup)