Wall Street Bangkit, S&P 500 dan Nasdaq Naik Ditopang Sektor AI

Ilustrasi. Foto: Dok MI

Wall Street Bangkit, S&P 500 dan Nasdaq Naik Ditopang Sektor AI

Eko Nordiansyah • 4 November 2026 08:10

New York: Wall Street ditutup cenderung menguat pada Selasa, 3 November 2026, didorong oleh kebangkitan kembali sektor kecerdasan buatan (AI). Saham-saham perusahaan cip mencatatkan kenaikan untuk pertama kalinya dalam lima sesi, meskipun kekhawatiran masih terus membayangi terkait pengeluaran untuk AI yang didanai oleh utang.

Sorotan utama hari ini adalah pemilihan paruh waktu (midterm elections) di Amerika Serikat, yang hasilnya berpotensi memengaruhi berbagai sektor, mulai dari teknologi hingga utilitas. Para investor juga mencermati laporan laba terbaru dari sektor teknologi, termasuk hasil kuartalan dari Apple.

Dikutip dari Investing, Rabu, 4 November 2026, indeks acuan S&P 500 naik 0,3 persen dan ditutup pada level 7.567,72 poin, sementara indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi menguat 0,8 persen ke posisi 25.372,01 poin. Sebaliknya, indeks blue-chip Dow Jones Industrial Average justru melemah 0,4 persen dan berakhir di level 51.786,15 poin.

Pasar cenderung menguat setelah pemilihan paruh waktu

Pemilihan paruh waktu AS yang telah lama dinantikan kini menjadi pusat perhatian. Yang dipertaruhkan adalah kendali atas dua kamar Kongres AS, yang saat ini didominasi oleh mayoritas dari Partai Republik, partai Presiden Donald Trump.

Keterjangkauan harga akan menjadi isu utama saat masyarakat Amerika menuju tempat pemungutan suara. Harga energi melonjak sejak dimulainya konflik antara pemerintahan Trump dan Iran, yang memicu kenaikan biaya untuk komoditas seperti bensin dan solar. Meski demikian, kuatnya belanja konsumen serta investasi di bidang kecerdasan buatan (AI) telah membantu menopang pertumbuhan ekonomi AS secara keseluruhan.
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Sentimen terkait AI kembali menguat

Di luar ranah politik, Philadelphia Semiconductor Index, barometer utama untuk saham-saham sektor cip, ditutup naik hampir tiga persen pada Selasa, mencatatkan sesi positif pertama dalam lima hari terakhir. Sebagian besar saham dari kelompok 'Magnificent Seven' juga mengalami kenaikan.

Sentimen terkait kecerdasan buatan (AI) telah menjadi tema dominan di pasar belakangan ini. Bulan Oktober menjadi sorotan karena adanya laporan kinerja kuartalan dari perusahaan-perusahaan raksasa di sektor ini, yakni Meta Platforms, Alphabet, Microsoft, dan Amazon. Keempat perusahaan tersebut dikenal sebagai 'AI hyperscalers', perusahaan yang menginvestasikan miliaran dolar ke dalam pusat data (data center) untuk mendukung pengembangan serta pelatihan model AI.

Laporan dari keempat perusahaan tersebut belum mampu meredakan kekhawatiran mengenai pengeluaran besar-besaran yang belum pernah terjadi sebelumnya di bidang AI. Secara khusus, arus kas bebas (free cash flow) negatif pada Meta, Alphabet, dan Amazon justru membengkak.

Meta dan Microsoft juga telah mengumumkan rencana penerbitan saham dan obligasi dalam jumlah besar untuk mendanai ambisi AI mereka; langkah serupa juga diambil oleh Oracle, yang merupakan pemain besar lainnya di kategori 'hyperscaler'.

Para pelaku pasar akan kembali mendapatkan gambaran mengenai permintaan cip AI saat AMD melaporkan kinerjanya setelah penutupan bursa.

Saham Apple turun di tengah kekhawatiran margin

Di sisi lain, saham Apple ditutup melemah hampir dua persen setelah raksasa teknologi tersebut memproyeksikan margin kotor yang agak rendah untuk kuartal ini. Hal ini disebabkan oleh tekanan yang meningkat akibat lonjakan harga cip memori.

Margin kotor diperkirakan berada di kisaran 45 persen hingga 46 persen, di bawah ekspektasi pasar sebesar 46,9 persen. John Ternus, yang menggantikan Tim Cook sebagai CEO pada bulan September, menyatakan kenaikan biaya memori merupakan kondisi yang belum pernah terjadi sebelumnya dan harga kemungkinan akan terus meningkat pada kuartal ini dan periode mendatang.

Produsen iPhone ini juga memproyeksikan perlambatan pendapatan pada segmen layanannya, yang sebagian disebabkan oleh tantangan dari kondisi mata uang yang tidak menguntungkan, regulasi, serta perlambatan berkelanjutan dalam sektor gim seluler.

Meski demikian, kinerja Apple pada kuartal keempat tahun fiskal melampaui estimasi pendapatan maupun laba, terutama didorong oleh kuatnya penjualan lini iPhone 18 yang baru. Ponsel lipat pertama perusahaan tersebut juga diluncurkan pada bulan Oktober dengan permintaan yang sangat tinggi, meskipun Apple memperingatkan pasokan perangkat ini kemungkinan akan terbatas dalam waktu dekat.

Di saat sentimen terhadap sektor teknologi sedang tertekan akibat kekhawatiran mengenai pengeluaran berbasis utang untuk infrastruktur AI, Apple dipandang oleh sebagian investor sebagai aset yang lebih aman (safe-haven) karena perusahaan ini relatif lebih lambat dalam mengadopsi teknologi yang masih dalam tahap awal tersebut.

Sementara itu, saham Palantir turun hampir dua persen karena kekhawatiran terkait pemesanan di masa depan membayangi laporan pendapatan yang sebenarnya cukup solid dari perusahaan analisis data yang berfokus pada AI tersebut.

(Eko Nordiansyah)