Protes pelajar di Prancis yang berujung rusuh. Foto: EPA
Wali Kota Saint-Denis Terkena Gas Air Mata ketika Lindungi Demonstran Pelajar Prancis
Muhammad Reyhansyah • 8 October 2026 14:03
Paris: Wali Kota Saint-Denis, Bally Bagayoko, terkena gas air mata saat berdiri di depan polisi untuk melindungi demonstran pelajar dalam aksi di Paris, Prancis.
Dalam video yang viral di media sosial, Bagayoko terlihat berdiri menghadap polisi sambil melindungi para demonstran muda dan berteriak, “stop”.
“Mereka telah memutuskan untuk melakukan pembubaran dan pada dasarnya mengejar para pelajar, yang banyak di antaranya sama sekali tidak menunjukkan perilaku agresif terhadap petugas polisi,” kata Bagayoko kepada Reuters di kantornya di Saint-Denis, Rabu, 7 Oktober 2026.
Mengutip Channel News Asia, Bagayoko mengatakan polisi kemudian menembakkan gas air mata ke kelompok tersebut, termasuk dirinya.
Protes Pelajar Terus Meluas
Gelombang demonstrasi pelajar telah berlangsung selama lebih dari dua pekan. Aksi tersebut bermula di wilayah pinggiran Paris dan menunjukkan kemarahan publik terhadap kondisi pendidikan, sekitar enam bulan sebelum pemilu untuk memilih pengganti Presiden Prancis Emmanuel Macron.Lebih dari 6.000 orang telah ditangkap dan puluhan pelajar terluka sejak demonstrasi dimulai. Kelompok hak asasi manusia dan serikat pekerja menuduh polisi menggunakan tindakan keras terhadap anak di bawah umur, termasuk tongkat, gas air mata, dan senjata flashball yang dirancang untuk menimbulkan dampak nonmematikan.
Pihak berwenang mengatakan ratusan polisi juga terluka. Mereka juga melaporkan sejumlah sekolah dibakar atau dijarah, sementara guru dan warga menjadi sasaran serangan.
Saint-Denis, wilayah dengan tingkat kemiskinan lebih dari dua kali rata-rata nasional, menjadi salah satu lokasi awal demonstrasi pelajar pada akhir September.
Para pelajar memprotes ruang kelas yang terlalu padat dan tidak layak, kekurangan guru, serta ketimpangan kesempatan.
“Protes bukan hal baru di sini, aksi seperti ini terjadi setiap awal tahun akademik,” kata Bagayoko.
“Janji republik (tentang kesetaraan), khususnya bagi kawasan kelas pekerja dan juga wilayah pedesaan, tidak terpenuhi,” lanjutnya.
Bagayoko mengatakan pemerintah seharusnya memprioritaskan investasi di sektor pendidikan dan mengenakan pajak lebih tinggi terhadap miliarder.
Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu mengatakan pada Rabu bahwa pemerintah akan meninjau tuntutan yang disampaikan para pelajar dan mengajukan sejumlah proposal pada akhir Oktober. Ia tidak memberikan perincian mengenai proposal tersebut.
Pemerintah sebelumnya menuding politisi LFI berada di balik demonstrasi. Bagayoko membantah tuduhan itu dan menyebutnya sebagai penghinaan terhadap para pelajar yang turun ke jalan.
Sebagai ayah dari empat anak, Bagayoko mengatakan dirinya merasa memiliki tanggung jawab untuk berada di sisi para demonstran muda.
“Para pelajar sekolah menengah yang berada di jalan bisa saja menjadi anak-anak saya merupakan tanggung jawab saya untuk berada di sisi mereka,” pungkas Bagayoko.