Demo Pelajar Memanas, Polisi Prancis Hentikan Penggunaan Granat Kejut

Polisi Prancis menghentikan penggunaan granat kejut dalam menghadapi demonstrasi pelajar. (Anadolu Agency)

Demo Pelajar Memanas, Polisi Prancis Hentikan Penggunaan Granat Kejut

Muhammad Reyhansyah • 7 October 2026 17:52

Paris: Polisi Prancis menghentikan penggunaan granat kejut dalam menghadapi demonstrasi pelajar setelah muncul sejumlah tuduhan kekerasan aparat selama aksi yang berlangsung di berbagai wilayah negara tersebut.

Menurut laporan stasiun radio Prancis, RTL, Rabu, 7 Oktober 2026, Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez mengatakan penggunaan granat kejut oleh polisi dalam demonstrasi telah dihentikan.

Keputusan tersebut diambil setelah demonstrasi yang terkadang berujung bentrokan berlangsung selama beberapa hari dan memicu tuduhan penggunaan kekuatan berlebihan oleh polisi.

Senin lalu, seorang pelajar berusia 15 tahun kehilangan tangannya setelah polisi menembakkan granat kejut.

Dalam insiden lainnya, seorang pelajar berusia 14 tahun di barat laut Paris terkena granat gas air mata dari jarak sangat dekat hingga kehilangan beberapa gigi. Seorang polisi telah didakwa pada Selasa terkait insiden tersebut.

“Polisi telah membuka 18 penyelidikan internal terkait dugaan pelanggaran sejak demonstrasi dimulai,” kata Nunez, dikutip dari Channel News Asia.

Demonstrasi Terus Meluas

Puluhan ribu orang turun ke jalan di berbagai wilayah Prancis pada Selasa untuk menuntut kondisi yang lebih baik di sekolah menengah.

Perkembangan tersebut mendorong Presiden Emmanuel Macron menggelar rapat darurat bersama Perdana Menteri Sebastien Lecornu dan sejumlah menteri utama untuk mencari jalan keluar dari krisis.

Kantor Lecornu mengatakan sang perdana menteri akan menyampaikan pidato pada Rabu mengenai demonstrasi sekolah sekaligus kondisi keuangan Prancis.

Aksi bermula pada akhir September ketika pelajar memblokade pintu masuk ratusan sekolah menengah untuk usia 15 hingga 17 tahun. Mereka memprotes kondisi fasilitas yang rusak serta kekurangan guru.

Orang tua, guru, dan pekerja serikat kemudian bergabung dalam demonstrasi di Paris dan sejumlah kota lainnya pada Selasa.

Polisi Hadapi Tuduhan Kekerasan

Tuduhan penggunaan kekuatan secara tidak proporsional meningkat seiring meluasnya demonstrasi. Bentrokan sporadis terjadi antara polisi dan demonstran, meski sebagian besar aksi berlangsung damai.

Pada Selasa, Lecornu mengecam kekerasan tersebut dan mengatakan kepada anggota parlemen bahwa tindakan kekerasan tidak akan ditoleransi.

Namun, ia sekaligus membantah tuduhan bahwa pemerintah memerintahkan “represi polisi” terhadap para demonstran.

Baca juga: Menlu Prancis Respons Trump soal Demo Pelajar yang Dikaitkan dengan Islam

(Willy Haryono)