Kubah Lava Merapi Bertambah 9.400 Meter Kubik

Gunung Merapi di perbatasan DIY-Jawa Tengah. MI

Kubah Lava Merapi Bertambah 9.400 Meter Kubik

Agus Utantoro • 24 October 2026 19:35

Yogyakarta: Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta mencatat volume kubah lava barat daya Gunung Merapi bertambah 9.400 meter kubik selama periode pengamatan 16-22 Oktober 2026. Dengan penambahan tersebut, volume kubah lava di puncak gunung itu mencapai 4.187.400 meter kubik.

Sementara itu, kubah lava tengah tidak dapat diamati akibat tertutup asap. BPPTKG menggunakan volume pada periode sebelumnya sebagai acuan sementara untuk kubah lava tersebut.

"Kami kemudian menganggap, volumenya masih sama dengan volume pekan sebelumnya yakni 2.369.600 meter kubik," kata Kepala BPPTKG Yogyakarta Agus Budi Santosa, Sabtu, 24 Oktober 2026.

Dalam keterangan tertulisnya, Agus menyampaikan hasil pengamatan foto termal menunjukkan suhu kubah lava barat daya mencapai 295,7 derajat Celsius, sedangkan kubah lava tengah tercatat 296,3 derajat Celsius.

Selama periode pengamatan tersebut, BPPTKG mencatat 32 kali guguran lava. Rinciannya, tiga kali guguran mengarah ke hulu Sungai Boyong dengan jarak luncur mencapai 2.000 meter, kemudian 10 kali menuju hulu Sungai Krasak sejauh 2.000 meter.
 


Selain itu, satu kali guguran lava mengarah ke hulu Sungai Bebeng dengan jarak luncur 1.800 meter. Sebanyak 18 guguran lainnya mengarah ke hulu Sungai Sat/Putih dengan jarak luncur mencapai 2.000 meter.

Pengamatan juga mencatat asap kawah dengan ketinggian berkisar 25–375 meter dari puncak. Asap berwarna putih dengan ketebalan tipis hingga sedang serta tekanan lemah.

"Cuaca di puncak pada umumnya cerah pada pagi dan malam, sedang sore hari berkabut," jelas Agus.

Dari sisi kegempaan, BPPTKG merekam 53 kali gempa vulkanik dangkal (VTB), 418 kali gempa fase banyak (MP), satu kali gempa frekuensi rendah (LF), 17 kali gempa tremor, 469 kali gempa guguran (RF), dan 13 kali gempa tektonik (TT).

Agus menyebut intensitas kegempaan pada pekan tersebut lebih rendah dibandingkan periode pengamatan sebelumnya. Meski demikian, BPPTKG masih mempertahankan status aktivitas Gunung Merapi pada Level III atau Siaga.


Gunung Semeru erupsi dengan tinggi letusan mencapai 1 km di atas puncak pada Rabu (30/9/2026). ANTARA/HO-PVMBG


Hasil pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung. Kondisi tersebut dapat memicu awan panas guguran di wilayah yang masuk dalam zona potensi bahaya.

"Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan – barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km. Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak," ujarnya.

BPPTKG mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Merapi dan mematuhi rekomendasi terkait wilayah yang berpotensi terdampak guguran lava maupun awan panas.

(Whisnu M)