Menlu Iran Desak PBB Kutuk Kejahatan Perang AS-Israel, Rusia Mendukung Penuh

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Foto: CGTN

Menlu Iran Desak PBB Kutuk Kejahatan Perang AS-Israel, Rusia Mendukung Penuh

Fajar Nugraha • 6 April 2026 10:37

Teheran: Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengambil tindakan tegas dalam mengutuk apa yang ia sebut sebagai kejahatan perang sistematis oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Tuntutan ini disampaikan Araghchi dalam pembicaraan telepon dengan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov.

Araghchi memaparkan bahwa selama 37 hari terakhir, agresi AS dan Israel telah menyasar infrastruktur industri, fasilitas produksi, rumah sakit, sekolah, hingga kawasan pemukiman. Selain itu, ia mengecam serangan terhadap pusat-pusat ilmiah dan fasilitas nuklir Iran yang dinilai sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional.

Pemerintah Iran meminta badan internasional terkait, khususnya Dewan Keamanan PBB dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), untuk segera bertindak. Araghchi menuntut pengakuan resmi atas kejahatan tersebut dan upaya untuk menyeret agresor ke pengadilan internasional.

Ia menyoroti ancaman terbaru AS terhadap fasilitas energi Iran sebagai pengakuan terbuka atas niat melakukan kejahatan perang. Sementara itu, Iran menyerukan anggota Dewan Keamanan PBB untuk mencegah AS menyalahgunakan lembaga tersebut sebagai instrumen agenda ilegal.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, menegaskan kembali posisi Moskow yang mengutuk keras agresi militer AS dan Israel terhadap Iran. Rusia menekankan pentingnya penghentian segera serangan terhadap target sipil, terutama Pembangkit Listrik Nuklir Bushehr.

Lavrov juga mendesak semua pihak untuk memaksimalkan peluang diplomatik guna mencegah perluasan konflik di kawasan. Komunikasi tingkat tinggi ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump memperbarui ancamannya untuk menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan di Iran jika Teheran tetap menutup Selat Hormuz.

Trump mengatakan bahwa hari Selasa akan menjadi momentum serangan terpadu terhadap infrastruktur vital Iran. Iran telah memperketat pembatasan lintas kapal di Selat Hormuz.

Jalur energi vital dunia tersebut dinyatakan tertutup bagi kapal yang berafiliasi dengan AS, Israel, dan sekutunya. Restriksi ini telah memicu lonjakan harga energi dan komoditas global secara signifikan. Para ahli memperingatkan bahwa dampaknya bisa mencapai level historis jika konfrontasi terus berlanjut.

Teheran menegaskan komitmennya untuk mempertahankan kedaulatan nasional di tengah meningkatnya konsensus internasional, yang dipimpin oleh Rusia dan Tiongkok, guna melawan kebijakan AS dan Israel yang dinilai mengancam perdamaian global.

(Kelvin Yurcel)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)