Untung Ada Lebaran

Dewan Redaksi Media Group, Abdul Kohar. Foto: Media Indonesia (MI)/Ebet.

Podium Media Indonesia

Untung Ada Lebaran

Abdul Kohar, Media Indonesia • 30 March 2026 10:22

Ada celetukan sangat viral pada 1980-an dari almarhum Gepeng. Pelawak Srimulat itu berucap, "Untung ada saya." Ia menggambarkan betapa 'berartinya' keberadaan dirinya saat semua mata memandang 'rendah' posisinya sebagai pembantu rumah tangga. Kini, ungkapan serupa bisa kita pakai untuk memaknai kehadiran Lebaran.

Ada yang kerap kita lupakan di tengah riuh takbir dan arus kendaraan yang merayap tanpa jeda saat Idulfitri tiba. Lebaran bukan sekadar peristiwa kultural, melainkan juga denyut ekonomi yang paling nyata. Ia bukan hanya perayaan spiritual, melainkan juga mekanisme distribusi kesejahteraan.

Dalam banyak hal, 'instrumen Lebaran' bekerja lebih efektif daripada rumus kebijakan yang kaku. Pernyataan juru bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto, dua pekan lalu, layak dicatat sebagai pengingat. Mudik Lebaran, kata Haryo, ialah motor penggerak ekonomi nasional.
 


Sebuah pernyataan yang bukan hiperbola. Tradisi tahunan itu menciptakan efek berlapis, seperti menyentuh UMKM, pedagang kecil, hingga sektor transportasi. Lebaran juga terbukti menghidupkan kembali denyut ekonomi di daerah yang kerap terpinggirkan dari pusat pertumbuhan.

Di situlah letak keistimewaan Lebaran. Ia memaksa uang untuk bergerak. Data historis menunjukkan konsumsi rumah tangga melonjak 15%-20% saat Lebaran jika dibandingkan dengan bulan normal. Dalam istilah ekonomi, velocity of money meningkat tajam. Dalam bahasa sederhana bisa dikatakan bahwa uang tidak diam, ia berputar, berpindah tangan, dan menghidupi banyak orang.

Lebih jauh lagi, tingginya marginal propensity to consume masyarakat Indonesia pada periode itu membuat setiap rupiah yang dibelanjakan memiliki daya ungkit yang besar. Pada momen Lebaran, masyarakat dari berbagai level tidak menabung. Mereka justru belanja, bahkan sangat banyak.

Karena itu, pendapatan UMKM di daerah bahkan bisa meningkat 50%-70%. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia napas bagi pedagang kaki lima, pemilik warung, hingga pelaku usaha kecil yang menunggu momen itu sepanjang tahun.

Kajian Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2023 mempertegas hal tersebut. Aktivitas mudik berkontribusi sekitar 1,5% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional secara tahunan. Nilainya bisa sekitar Rp145 triliun hingga Rp190 triliun. Angka yang tampak kecil, tetapi sesungguhnya signifikan dalam konteks ekonomi sebesar Indonesia.


Ilustrasi lebaran. Foto: Dok. Medcom.id.

Lebih penting lagi, kontribusi itu terjadi melalui redistribusi uang, dari kota ke desa, dari pusat ke pinggiran, yang memperluas manfaat pertumbuhan. Dengan kata lain, Lebaran ialah koreksi alami atas ketimpangan.

Setiap pengeluaran pemudik menciptakan efek pengganda. Tiket transportasi yang dibeli, makanan yang disantap di perjalanan, oleh-oleh yang dibawa pulang, semuanya menjadi mata rantai ekonomi yang saling terhubung. Dari sopir angkutan hingga pedagang pasar, semua mendapat bagian.

Untuk Idul Fitri 1447 Hijriah, optimisme itu kembali menguat. Tahun lalu, pergerakan masyarakat mencapai 154,62 juta orang. Tahun ini, angkanya diperkirakan meningkat, seiring berbagai stimulus pemerintah, berupa lebih dari Rp12,8 triliun untuk fiskal, Rp11,92 triliun bantuan sosial bagi jutaan keluarga, hingga diskon transportasi hampir Rp1 triliun.

Di tengah kontribusi konsumsi rumah tangga yang mencapai lebih dari separuh produk domestik bruto, kebijakan itu jelas bukan sekadar pelengkap. Ia bahan bakar.

Namun, di balik optimisme itu, ada catatan yang tak boleh diabaikan. Momentum Lebaran tidak boleh berhenti sebagai euforia musiman. Ia harus diolah menjadi strategi jangka panjang. Penguatan UMKM, perbaikan infrastruktur distribusi, dan sinergi kebijakan menjadi kunci agar efek Lebaran tidak sekadar sementara, tetapi berkelanjutan.

Pada akhirnya, kita harus jujur mengakui bahwa tanpa Lebaran, banyak roda ekonomi daerah akan berputar lebih lambat. Tanpa mudik, arus uang akan lebih terkonsentrasi di kota-kota besar. Konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 53% hingga 54% terhadap PDB. Artinya, separuh lebih nyawa ekonomi kita ada di tangan belanja masyarakat.

Karena itu, mudik dan Lebaran bukan sekadar urusan macet di tol atau antrean di pelabuhan. Mudik ialah momentum kedaulatan ekonomi. Sinergi kebijakan dan penguatan peran UMKM menjadi kunci agar momentum itu tidak lewat begitu saja sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi fondasi pertumbuhan yang berkelanjutan.

Sekali lagi, di tengah ketidakpastian global, kita beruntung punya Lebaran. Sebuah momentum dengan nilai-nilai religiositas berkelindan mesra dengan penguatan ekonomi kerakyatan.

Untung ada Lebaran.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fachri Audhia Hafiez)