Begini Cara Sederhana Tingkatkan Empati Remaja di Sekolah

Pendiri dan Ketua HCC Ray Wagiu Basrowi saat memberi pengarahan kepada siswa. Foto: dok HCC.

Begini Cara Sederhana Tingkatkan Empati Remaja di Sekolah

Ade Hapsari Lestarini • 21 May 2026 11:57

Jakarta: Health Collaborative Center (HCC) melanjutkan implementasi intervensi psikososial berbasis sekolah "Cek Teman Sebelah 3.0" di lingkungan SMA untuk memperkuat empati, kepedulian sosial, dan ketahanan kesehatan mental remaja Indonesia.

Program tersebut dijalankan di empat sekolah, yakni SMKN 68, SMK Bina Dharma, MAN 15, dan MAN 24 di wilayah binaan Puskesmas Ciracas. Program ini dikembangkan sebagai eksperimen sosial berbasis sekolah yang mendorong siswa lebih aktif memperhatikan kondisi emosional dan psikososial teman di sekitarnya.

Pendiri dan Ketua HCC Ray Wagiu Basrowi menjelaskan, orientasi pembentukan empati remaja bisa dilakukan dengan sederhana yaitu fokus dan menyebarkan kebaikan teman.

"Di banyak negara maju yang indeks kebahagiaannya tinggi seperti di Skandinavia, remaja diajarkan sejak sekolah untuk melakukan metode tootling atau melaporkan kebaikan teman dalam bentuk apapun setiap hari. Dan ini sudah dibuktikan HCC lewat studi di beberapa SMA bahwa empati remaja yang melakukan metode tootling itu meningkat hingga lima kali lipat. Ini pun memotivasi HCC untuk mengimplementasikan ini secara lebih luas," ujar Ray yang juga menjadi inisiator Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa ini, dilansir keterangan tertulis, Kamis, 21 Mei 2026.

Program "Cek Teman Sebelah" yang dipimpin oleh project coordinator Bunga Pelangi MKM ini mengajak siswa melakukan aksi sederhana selama beberapa hari. Mulai dari memperhatikan perubahan perilaku teman, membuka percakapan yang suportif, hingga melaporkan tindakan kebaikan yang dilakukan teman sebaya.


Pendiri dan Ketua HCC Ray Wagiu Basrowi. Foto: dok HCC.
 

 

Program yang berpengaruh terhadap kesehatan mental remaja


Menurut Ray, pendekatan ini penting karena berbagai studi menunjukkan dukungan sosial sebaya memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan mental remaja, termasuk dalam menurunkan risiko stres psikologis, depresi, hingga perilaku menyakiti diri.

"Kadang intervensi kesehatan mental paling sederhana bukan langsung terapi, tetapi kehadiran manusia lain yang benar-benar peduli," tambah dia.

HCC menilai sekolah bukan hanya ruang akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter sosial dan emosional generasi muda. Karena itu, penguatan empati dan solidaritas antarremaja menjadi bagian penting dalam membangun kesehatan masyarakat jangka panjang.

Program ini juga hadir di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap fenomena isolasi sosial pada anak muda, cyberbullying, tekanan sosial digital, hingga menurunnya kualitas interaksi langsung antarteman.

Melalui pendekatan yang ringan dan dekat dengan keseharian remaja, HCC berharap “Cek Teman Sebelah” dapat menjadi gerakan sederhana namun berdampak besar dalam menciptakan lingkungan sekolah yang lebih suportif, aman, dan manusiawi.

Ke depan, HCC berencana memperluas implementasi program ini ke lebih banyak sekolah dan komunitas remaja di Indonesia sebagai bagian dari gerakan promotif kesehatan mental berbasis empati sosial.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Ade Hapsari Lestarini)