Insiden Kekerasan di daycare, Pakar Sebut Orang Tua Juga Jadi Korban

Ilustrasi Pexels

Insiden Kekerasan di daycare, Pakar Sebut Orang Tua Juga Jadi Korban

Muhamad Marup • 21 May 2026 16:11

Yogyakarta: Insiden kekerasan di tempat pengasuhan atau daycare yang marak beberapa waktu belakangan, tidak hanya berdampak pada anak yang menerima kekerasan secara langsung. Pakar Psikologi sekaligus alumni dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Okina Fitriani, menyebut orang tua juga menjadi korban atas insiden tersebut.

"Dari sisi orang tua  di kasus ini juga menjadi korban, katanya, tepatnya korban penipuan sebuah lembaga," ujar Okina, mengutip laman resmi UGM, Kamis, 21 Mei 2026.

Ia menjelaskan, orang tua perlu lebih aware terhadap tanda-tanda. Selama ini orang tua mengira jika nggak ada lebam, nggak ada luka karena dalam kasus ini anak diikat dengan kain halus, artinya tidak apa-apa.

"Meskipun tidak ada tanda-tanda fisik, jika anak menyampaikan hal-hal yang menimbulkan pertanyaan, kita perlu cepat-cepat untuk mencari tahu,” jelasnya.

Okina menekankan, peran orang tua menjadi krusial, terutama dalam membangun kepekaan terhadap tanda-tanda tersebut dan dalam mempersiapkan daycare yang tepat. Reaksi seperti meningkatnya kecemasan, penolakan terhadap situasi tertentu, atau perubahan pola makan dan emosi dapat menjadi indikasi ketidaknyamanan yang perlu diperhatikan lebih lanjut.

Ia menambahkan, ketika orang tua mengetahui adanya pengalaman yang tidak sesuai yang dialami anak, proses tersebut tidak hanya menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi anak, tetapi juga dapat memunculkan tekanan emosional pada orang tua. Perasaan bersalah, penyesalan, hingga kebingungan dalam merespons situasi sering kali muncul setelah kejadian terungkap. Sehingga kesehatan mental orang tua perlu diperhatikan seiring berjalannya proses hukum.

"Kesehatan mental orang tua dan pengawalan hukum harus berjalan beriringan. Ini termasuk traumatic event, bagaimana mengurangi rasa bersalah dan bagaimana kembali fokus," katanya.

Dalam perspektif anak sebagai korban, kata Okina, perkembangan usia dini sangat penting untuk membangun kemampuan kognitif, pembentukan kepribadian, dan kualitas diri di masa depan. Namun, ketika terjadi kekerasan, risiko jangka panjangnya tinggi.

"Ketika terjadi kekerasan pada anak usia 0-3 tahun, efeknya implisit, di usia ini, intervensinya lebih challenging," ucapnya.

Peningkatan kualitas

Okina mendorong adanya peningkatan kualitas sistem pengasuhan, mengingat daycare adalah bagian dari ekosistem perkembangan anak. Ketika aspek seperti lisensi, kurikulum, pelatihan pengasuh, dan pengawasan belum terpenuhi, maka sistem layanan pengasuhan anak tersebut belum diperlakukan sebagai infrastruktur perkembangan.

"Pemerintah perlu mempunyai sistem di mana orang tua dapat dengan mudah mengakses informasi terkait izin layanan daycare," terangnya.

Ilustrasi Pexels


Ia menekankan, bahwa pengasuhan anak usia dini harus memiliki standar yang jelas. Menurutnya, standar tersebut penting karena pengasuh memiliki tanggung jawab untuk mengenali batas-batas pengasuhan yang aman bagi anak.

Meskipun ada tekanan atau instruksi dari pihak lain, pengasuh tetap perlu memahami bahwa tindakan tertentu tidak dapat dibenarkan dalam konteks pengasuhan anak usia ini. Pemerintah juga perlu melakukan pengawasan berkala terhadap daycare yang sudah ada.

"Sebenarnya ini tidak hanya soal kekerasan, tapi juga soal kelemahan sistem," tuturnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)