Kualitas Udara Berbahaya, Warga Sekitar TPA Jatiwaringin Diimbau Pakai Masker

Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup (PPKLH) pada Kementerian Lingkungan Hidup, Rasio Ridho Sani di TPA Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Kamis (2/7/2026). ANTARA/HO-KLH

Kualitas Udara Berbahaya, Warga Sekitar TPA Jatiwaringin Diimbau Pakai Masker

Achmad Zulfikar Fazli • 2 July 2026 19:41

Tangerang: Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengimbau warga yang berada di sekitar kawasan TPA Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, untuk menghindari paparan asap kebakaran. Imbauan ini disampaikan seiring memburuknya kualitas udara akibat terjadi konsentrasi partikulat halus di lokasi sekitar 1.000 mikrogram per meter kubik, jauh melampaui baku mutu harian nasional sebesar 55 meter kubik.

"Kami sampaikan tentu pada masyarakat yang berada di lokasi sekitar sini agar tetap menggunakan alat pelindung diri, termasuk menggunakan masker agar dampak pada kesehatan mereka bisa tertangani. Ini langkah-langkah kita sekarang," jelas Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup (PPKLH) pada Kementerian Lingkungan Hidup, Rasio Ridho Sani di Tangerang, dilansir dari Antara, Kamis, 2 Juli 2026.

Dia mengatakan berdasarkan data pada stasiun pemantauan kualitas udara KLH pada siang hari, menunjukkan paparan polusi udara jenis particulate matter (PM2.5) di TPA Jatiwaringin melebihi ambang batas.

Nilai PM2.5 mencapai angka 1.000 dari baku mutu seharusnya 55. Untuk PM10, mencapai angka 750 dari baku mutu yang idealnya di angka 75.

Rasio mengatakan pihaknya juga mengukur parameter nitrogen oksida (NOx) dan Sulfur Oksida (SOx) yang timbul akibat kebakaran timbunan sampah di TPA Jatiwaringin.

"Partikulatnya SOx, NOx karena juga di sini yang terbakar di antaranya ada plastik dan sebagainya, tentu plastik kan juga berdampak ke kesehatan," ujar Rasio.

Petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan api di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (1/7/2026). . ANTARA FOTO/Putra M. Akbar

Menurut dia, polusi udara yang timbul dari kebakaran TPA Jatiwaringin lebih berbahaya dibandingkan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebab, timbunan sampah yang terbakar itu mengandung biomassa dan gas metana.

"Karena dampak kualitas udaranya, pertama dia ada biomassa ada gas metannya kemudian kan ada plastik dan sebagainya," tutur Rasio.

Rasio mengimbau agar masyarakat yang tidak memiliki kepentingan dalam peristiwa kebakaran TPA Jatiwaringin untuk tidak mendekat ke lokasi kebakaran karena sangat berdampak pada kesehatan, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus mengoptimalkan proses pemadaman kebakaran di TPA Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, melalui penyiraman air dari udara menggunakan helikopter water bombing.

"Kita terus mengoptimalkan pemadaman, nanti sore kedua helikopter akan melakukan penyiraman lagi. Jadi, itu upaya-upaya kita untuk menyelesaikan pemadaman di TPU Jatiwaringin," kata Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi BNPB, Brigjen Djohan Darmawan.

Pengebom air akan terus dimaksimalkan guna meminimalkan kobaran api yang masih tersebar di puncak tumpukan sampah tersebut.

"Water bombing baru aktif mulai kemarin. Itu pun belum maksimal hanya sampai 1 jam. Jadi, karena baru digeser, kita maksimalkan," ucap Djohan.

Selain optimalisasi operasi pemadaman dari udara, BNPB bersama pemerintah daerah Kabupaten Tangerang tengah membuka jalur untuk memudahkan mobil pemadam kebakaran menerobos gunungan sampah hingga bisa mencapai titik api.

"Salah satunya upaya pembuatan jalan terobos, sehingga nanti kendaraan ataupun selang dari rekan-rekan pemadam kebakaran bisa masuk," kata Djohan.

(Achmad Zulfikar Fazli)