Ilustrasi kemarau. Foto: Freepik
BMKG Peringatkan Potensi Kekeringan di Jateng Selatan
Lukman Diah Sari • 7 May 2026 15:23
Cilacap: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia termasuk Jawa Tengah (Jateng) bagian selatan, saat musim kemarau tahun 2026 yang diprakirakan lebih kering dibandingkan kondisi normal.
“Prakiraan musim kemarau tahun ini sifat curah hujan di bawah normal, sehingga perlu perhatian dan antisipasi khusus oleh instansi terkait terutama terhadap daerah-daerah rawan kekeringan,” kata Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo di Cilacap, Kamis, 7 Mei 2026, melansir Antara.

Peta prakiraan awal musim kemarau tahun 2026 di Provinsi Jawa Tengah. ANTARA/HO-BMKG
Ia mengatakan berdasarkan data yang dirilis Stasiun Klimatologi Semarang, awal musim kemarau di sejumlah wilayah Jateng bagian selatan, salah satunya Kabupaten Cilacap diprakirakan terjadi pada dasarian kedua Mei atau pertengahan Mei 2026. Khusus wilayah pesisir tenggara Kabupaten Cilacap seperti Kecamatan Binangun dan Nusawungu, musim kemarau diprediksi datang lebih awal pada dasarian pertama Mei.
Menurut dia, durasi musim kemarau di Kabupaten Cilacap diprediksi berlangsung selama 14-18 dasarian atau sekitar 140-180 hari dengan puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026. Selain Cilacap, prakiraan musim kemarau juga berlaku di sejumlah daerah lain di wilayah selatan Jawa Tengah seperti Banyumas, Purbalingga, dan Kebumen.
Kemudian di Kabupaten Banyumas, awal musim kemarau diperkirakan terjadi bertahap mulai dasarian pertama bulan Mei di wilayah tenggara, dasarian kedua Mei di wilayah barat daya dan selatan, hingga dasarian kedua Mei di wilayah utara dan tengah. Durasi musim kemarau di Banyumas diprakirakan berlangsung antara 11-18 dasarian dengan sifat musim kemarau di bawah normal atau lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis.
Teguh mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat mulai melakukan langkah antisipasi untuk menghadapi dampak musim kemarau, terutama terkait ketersediaan air bersih, potensi kekeringan lahan pertanian, dan ancaman kebakaran lahan. Ia juga meminta masyarakat terus memantau perkembangan informasi cuaca dan iklim yang disampaikan BMKG guna mendukung upaya mitigasi selama musim kemarau 2026.