Kementerian ESDM: Stok Energi Aman, Tapi Bukan Berarti Habis dalam 3-4 Minggu!

Ilustrasi Gedung Kementerian ESDM. Foto: dok Kementerian ESDM.

Kementerian ESDM: Stok Energi Aman, Tapi Bukan Berarti Habis dalam 3-4 Minggu!

Husen Miftahudin • 17 March 2026 14:01

Jakarta: Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Satya Hangga Yudha Widya Putra menegaskan posisi stok Indonesia dalam kondisi aman di tengah eskalasi konflik Iran-Israel. Pemerintah pun terus memantau perkembangan konflik Iran-Israel yang telah memicu ketidakpastian di pasar energi global tersebut.
 
"Pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional," ujar Hangga dalam diskusi mengenai potensi krisis energi global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa, 17 Maret 2026.
 
Hangga menjelaskan pemerintah telah melakukan berbagai kajian serta benchmarking terhadap kebijakan yang diterapkan negara lain dalam menghadapi potensi gangguan pasokan energi. Menurut dia, dari sisi ketersediaan energi, kondisi Indonesia saat ini masih dalam keadaan aman.
 
Stok bahan bakar minyak (BBM) nasional berada pada kisaran tiga sampai empat minggu. "Angka tersebut tidak berarti cadangan akan habis dalam jangka waktu empat sampai empat minggu, karena pasokan energi nasional terus diperkuat dan ditambah melalui produksi domestik maupun impor," jelas dia.
 
Hangga juga mengatakan hingga saat ini, jalur impor energi Indonesia masih berjalan dengan aman dan stabil. "Angka ketahanan tiga-empat minggu merupakan gambaran jika tidak ada produksi maupun impor sama sekali. Dalam praktiknya, cadangan, produksi, dan impor berjalan secara paralel, sehingga pasokan tetap terjaga," urai dia.
 

Baca juga: Arus Mudik Lancar, Pertare Pastikan Ketersediaan BBM dan LPG di Seluruh SPBU COCO


(Ilustrasi. Foto: dok MI)
 

Masyarakat tak perlu panic buying

 
Hangga juga mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan pembelian berlebih (panic buying), karena pemerintah memastikan pasokan energi nasional masih dalam kondisi terkendali.
 
Di sisi lain, lanjut dia, pemerintah juga memperkuat ketahanan energi nasional dalam jangka menengah dan panjang, salah satunya meningkatkan kapasitas penyimpanan (storage) minyak nasional.
 
Hangga menyebutkan Kementerian ESDM telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Danantara, untuk mengembangkan fasilitas penyimpanan energi yang ditargetkan dapat meningkatkan cadangan hingga 60-90 hari ke depan.
 
"Jika dibandingkan dengan negara lain, kapasitas penyimpanan kita memang masih relatif kecil. Jepang memiliki cadangan hingga lebih dari 200 hari, sementara beberapa negara lain seperti Korea Selatan dan Taiwan bisa mencapai enam bulan. Karena itu, peningkatan storage menjadi salah satu prioritas," papar dia.
 
Hangga menambahkan konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah juga berpotensi mempengaruhi harga energi global. Saat ini harga minyak dunia telah bergerak di atas USD100 per barel, lebih tinggi dibandingkan asumsi harga minyak dalam APBN yang berada di kisaran USD70 per barel.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)