Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: The White House/Viory
Komandan Angkatan Laut Iran Ejek Ancaman Trump Blokir Selat Hormuz Sebut Hal Konyol
Dimas Chairullah • 13 April 2026 14:08
Teheran: Komandan Angkatan Laut Iran menepis mentah-mentah ancaman terbaru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang berniat memberlakukan blokade laut di Selat Hormuz.
Teheran menyebut ancaman tersebut sangat menggelikan dan tidak masuk akal.
Melansir laporan Press TV, Laksamana Muda Shahram Irani menegaskan bahwa militer Iran terus memantau dengan cermat setiap pergerakan armada AS di kawasan tersebut.
"Para prajurit pemberani Angkatan Laut Republik Islam Iran sedang melacak dan memantau semua pergerakan militer AS yang agresif di kawasan ini," kata Irani dalam pernyataannya, seperti dikutip dari Press TV, Senin, 13 April 2026.
Irani juga menyindir keras manuver Washington tersebut. "Ancaman presiden AS setelah kekalahan memalukan tentaranya dalam perang ketiga yang dipaksakan yaitu blokade laut terhadap Iran sangat menggelikan," tegasnya.
Ancaman blokade ini dilontarkan Trump pada hari Minggu, menyusul runtuhnya perundingan tingkat tinggi antara Teheran dan Washington di Islamabad, Pakistan, yang berakhir tanpa kesepakatan.
Trump mengumumkan telah memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memblokir Selat Hormuz, yang merupakan jalur air strategis bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Trump juga memperingatkan bahwa kapal mana pun yang membayar tol atau biaya transit kepada Iran akan dicegat di perairan internasional.
Sejak eskalasi perang AS-Israel meletus pada 28 Februari lalu, Iran telah membatasi lalu lintas maritim di Selat Hormuz. Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) bahkan telah mendeklarasikan bahwa selat tersebut "tidak akan pernah kembali ke keadaan semula, terutama bagi AS dan Israel."
Saat ini, Teheran hanya mengizinkan kapal-kapal dari negara sahabat untuk melintas, sementara kapal yang berafiliasi dengan negara-negara agresor beserta pendukungnya dilarang keras memasuki kawasan. Parlemen Iran juga tengah mempercepat rancangan undang-undang untuk memberlakukan biaya transit dalam mata uang nasional, yang secara eksplisit melarang kapal AS dan Israel.
Ketegangan di jalur air ini sejalan dengan eskalasi militer di darat. Angkatan bersenjata Iran sebelumnya telah meluncurkan ratusan rudal balistik, rudal hipersonik, dan drone ke pangkalan militer AS di Asia Barat serta posisi Israel di wilayah pendudukan. AS sendiri telah mengakui adanya puluhan korban jiwa di kalangan militer dan kerugian peralatan yang signifikan akibat serangan tersebut.
Terkait gagalnya negosiasi di Islamabad yang memicu ancaman blokade ini, Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa kini giliran Iran untuk menerima tawaran "terakhir dan terbaik" dari Washington.
Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memberikan bantahan keras. Mengutip laporan Press TV, Araghchi menyebut pihak AS justru menunjukkan sikap "maksimalisme, terus mengubah persyaratan, dan melakukan blokade" ketika kesepakatan sebenarnya sudah di depan mata.
"Tidak ada pelajaran yang dipetik," sindir Araghchi di media sosial, menyiratkan bahwa Washington tidak belajar apa pun dari rentetan konfrontasinya yang gagal dengan Iran.
Iran secara konsisten menegaskan bahwa mereka tidak akan pernah membiarkan AS atau Israel mendikte persyaratan lalu lintas di Selat Hormuz, mengingat jalur tersebut terletak di dalam wilayah perairan teritorial kedaulatan Teheran.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com