BNPB: 5 Helikopter Dikerahkan Padamkan Karhutla di Kalsel

Arsip - Helikopter menjatuhkan air saat melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Rabu (2/9/2026). ANTARA FOTO/Bayu Pratama S

BNPB: 5 Helikopter Dikerahkan Padamkan Karhutla di Kalsel

Siti Yona Hukmana • 2 September 2026 20:45

Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut lima helikopter dikerahkan untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan. Kebakaran di wilayah itu mencapai 348 hektare dengan 29 titik api.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan, mengatakan dari luas tersebut diketahui tim gabungan telah memadamkan lahan terbakar seluas lebih dari 80 hektare. Operasi darat berhasil memadamkan sekitar 22 hektare lahan.

"Sementara penyiraman air dari udara berhasil memadamkan sekitar 58 hektare lahan," kata Berton di Jakarta dilansir Antara, Rabu, 2 September 2026.

Menurut dia, operasi udara melibatkan lima helikopter water bombing yang menjatuhkan sekitar 1.212.000 liter air untuk membantu pemadaman karhutla. Adapun, kelima helikopter tersebut sampai saat ini masih disiagakan untuk membantu penanganan di 10 lokasi yang tersebar pada 10 kabupaten di Kalimantan Selatan.

Selain pemadaman, kata dia, tim petugas gabungan melakukan pengecekan lapangan atau ground check, yang menyasar beberapa wilayah prioritas karhutla di Kalsel.

"Untuk wilayah prioritas atau Ring 1, operasi water bombing difokuskan di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru. Sementara itu, wilayah yang juga mendapat perhatian untuk penanganan karhutla meliputi Barito Kuala, Banjar, Tapin, dan Balangan," kata Berton.

Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Foto: Dok. Istimewa.

Berton mengakui ada banyak tantangan dalam pemadaman kebakaran hutan dan lahan, sehingga dua skema pemadaman masih menjadi andalan utama pemerintah. Kondisi terkini dari tim lapangan mendapati masih minimnya sebaran awan penghujan, sehingga operasi modifikasi cuaca (OMC) belum dapat dilakukan.

Selain itu, akses menuju lokasi yang sulit, jarak sumber air yang jauh, luas lahan yang terbakar, serta angin dan kondisi asap yang menghambat proses pemadaman.

"Tapi kami berupaya untuk mengatasi kendala tersebut, tim terus berupaya mendekatkan sumber air dengan lokasi kebakaran melalui pembuatan kanal dan sumur baru sehingga proses pemadaman dapat dilakukan secara lebih efektif," kata Berton.

(Siti Yona Hukmana)