Editorial MI: Jalur Cepat Usut Kasus Kematian Bambang

Ilustrasi. Foto: MI.

Editorial MI: Jalur Cepat Usut Kasus Kematian Bambang

Media Indonesia • 4 September 2026 05:19

SEMINGGU telah berlalu sejak kericuhan pascademonstrasi di depan Gedung DPR. Seminggu pula dalang tewasnya Bambang Setiayawan dan dalang penganiayaan seorang pelajar dalam kericuhan itu belum terungkap.

Bambang merupakan pedagang cermin di Pejompongan, Jakarta. Ia tidak terdengar kabarnya setelah berpamitan pada keluarga untuk mematikan lampu lapaknya pada Kamis (27/8) malam. Keluarga baru mengetahui Bambang telah tewas pada keesokan dini hari.

Setiap hari berlalu tanpa pengungkapan, sesungguhnya setiap hari pula negara mempertaruhkan kewibawaannya. Kasus tewasnya Bambang dan penganiayaan pelajar tersebut bukan semata soal penegakan hukum kasus kriminal. Ini adalah kasus yang juga menjadi tolok ukur iklim demokrasi kita.

Terlebih, aksi kejahatan terhadap Bambang terekam jelas oleh banyak warga dan beredar luas di jagat maya. Rekaman itu tidak hanya menunjukkan detik-detik penganiayaan hingga terkaparnya Bambang, tetapi juga memperlihatkan kelompok orang yang diduga menjadi pelaku.

Artinya, bukan hanya bukti penganiayaan dari visum tubuh korban, polisi pun sudah disodori rekaman aksi pengeroyokan. Bahkan, para terduga pelaku juga mudah teridentifikasi karena menunjukkan diri sendiri sebagai kelompok massa dengan atribut ikat kepala putih, bila memang atribut itu benar.

Maka, ketika keluarga korban pun dapat segera mengenali Bambang dari rekaman video viral, mestinya bukan perkara sulit bagi penegak hukum untuk dapat menemukan identitas para terduga pelaku.

Hingga Rabu (2/9), Polda Metro Jaya menyatakan telah membuat dua sketsa wajah terduga pelaku pengeroyokan dan penganiayaan Bambang. Polda Metro Jaya juga telah menetapkan 47 orang sebagai tersangka dugaan kerusuhan.

Kita apresiasi pengungkapan dan tindakan tersebut. Namun, itu jelas belum cukup. Publik, khususnya pihak keluarga korban, menghendaki aparat segera meringkus pelaku serta aktor di balik penganiayaan dan pengeroyokan tersebut secara cepat dan transparan.


Polda Metro Jaya memperlihatkan dua sketsa wajah laki-laki terkait kasus pengeroyokan di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat. Foto: Antara.

Segala kemungkinan harus diselidiki, termasuk dugaan keterlibatan kelompok tertentu. Agar kepercayaan publik bahwa kasus itu ditangani secara transparan benar-benar tumbuh, tidak boleh ada upaya menutup rapat celah bagi pihak-pihak yang diduga terlibat.

Ungkap sejelas-jelasnya siapa, melakukan apa, untuk kepentingan apa, para terduga itu melakukan tindakan kejahatan tersebut. Hanya dengan cara itu publik tidak menaruh kecurigaan ada yang hendak ditutup-tutupi. Dari situ pula negara dapat memulihkan kewibaannya karena yang tumbuh ialah kepercayaan, bukan kecurigaan.

(Gabriella Thesa Widiari)