Presiden Prabowo Subianto (tengah) dan Presiden Rusia Vladimir Putin (kedua kanan) EEF ke-11 di Vladivostok, Rusia. Foto: ANTARA/Prisca Triferna.
Prabowo Dorong Pelayaran dan Penerbangan Langsung Indonesia-Rusia
Fachri Audhia Hafiez • 3 September 2026 16:51
Vladivostok: Presiden Prabowo Subianto meyakini pembentukan rute pelayaran langsung yang kompetitif antara Indonesia dan Rusia akan menjadi kunci. Khususnya, dalam memperkuat konektivitas serta efisiensi perdagangan bilateral kedua negara.
"Saya percaya di forum ini kita dapat menetapkan pelayaran langsung yang kompetitif antara Vladivostok dan Indonesia, dengan jadwal, biaya, asuransi, dan kargo yang dapat diprediksi di kedua arah," ujar Prabowo saat berpidato dalam Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, dilansir Antara, Kamis, 3 September 2026.
Selain konektivitas laut, Kepala Negara mendorong pembukaan rute penerbangan langsung antara Indonesia dan Rusia. Langkah ini diyakini tidak hanya mempermudah mobilitas bisnis, melainkan juga memacu sektor pariwisata serta mempererat hubungan antarmasyarakat (people-to-people contact).
"Hubungan udara langsung akan mendatangkan pengunjung Rusia ke Indonesia dan pengunjung Indonesia ke keindahan Timur Jauh Rusia (Russian Far East). Kapal menggerakkan barang, pesawat menggerakkan persahabatan," kata Prabowo.

Presiden Prabowo Subianto. Foto: ANTARA/BPMI Setpres.
Penguatan infrastruktur transportasi laut dan udara ini menjadi makin strategis seiring persiapan implementasi Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia-Uni Ekonomi Eurasia (Indonesia-EAEU FTA). Prabowo membeberkan delegasi bisnis Indonesia yang hadir di EEF ke-11 sedang aktif mempersiapkan pengiriman percontohan, pemetaan pasar, kepastian logistik, hingga penyepakatan mekanisme pembayaran.
Dia menegaskan saat penyesuaian tarif FTA resmi diberlakukan, seluruh rantai pasok, mulai dari komoditas, rute pengiriman, hingga kontrak kerja sama, harus sudah siap beroperasi secara optimal.
"Tugas di depan kita adalah mengubah kepercayaan pribadi menjadi kepercayaan institusional, aturan yang jelas, pembayaran yang andal, logistik yang dapat diprediksi, dan perjanjian yang bertahan melampaui pergantian pemerintah," tegas Prabowo.