Cegah Stigma, Kemen PPPA Dukung Asesmen Siswa Baru saat MPLS

Ilustrasi pendidikan. Foto: Pexels/Roman Odinstov

Cegah Stigma, Kemen PPPA Dukung Asesmen Siswa Baru saat MPLS

Muhamad Marup • 15 July 2026 21:29

Jakarta: Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) mendukung adanya asesmen terhadap siswa baru saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Hal tersebut dapat mencegah stigma pada anak.

"Sehingga (di sekolah) tidak memberikan stigma pada saat anak kemudian tidak bisa mengikuti aturan, tidak mengikuti pelajaran dengan prestasi yang sama dengan anak lain," ujar Asisten Deputi Penyediaan Layanan Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (Layanan AMPK) Kementerian PPPA, Ciput Purwianti, kepada awak media, Rabu, 15 Juli 2026.

Ia menerangkan, asesmen penting untuk mendukung proses pembelajaran. Dengan demikian, guru bisa menyesuaikan pembelajaran sesuai kondisi yang ada.

"Asesmen ini untuk mengetahui kondisi psikologis anak, kondisi keluarganya, dan ini menjadi pegangan agar guru tidak memberikan pendekatan yang seragam," jelasnya.

Sekolah Ruang Aman

Ciput menekankan pentingnya menjadikan sekolah sebagai ruang aman untuk anak. Hampir sepertiga kehidupan anak habis bersama teman sebaya dan sekolah menjadi tempat paling banyak mereka berinteraksi.

Rehablitisi Anak Berkebutuhan Khusus Gratis, Tapi Terkendala Akses

Asisten Deputi Penyediaan Layanan Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (Layanan AMPK) Kementerian Permberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Ciput Purwianti, usai taklimat media, di Jakarta, Rabu, 15 Juli 2026.


Kondisi anak di sekolah berbeda dengan rumah. Anak menghadapi kondisi yang lebih heterogen mulai dari latar belakang sosial, budaya, hingga ekonomi yang rawan konflik.

"Itu akan rawan untuk jadinya konflik, apakah itu perundungan, apakah itu kekerasan dengan teman sebayanya," tuturnya.

Ciput menegaskan, meski memiliki perbedaan, sekolah dan rumah harus saling berkesinambungan. Jangan sampai Anak mendapat lingkungan positif di sekolah, tapi di rumah justru berbeda, begitu juga sebaliknya. "Jadi pada saat di sekolah berhasil menerapkan pengasuhan positif, tapi kalau di rumah ada pengasuhan dengan kekerasan, anak sendiri yang bingung," katanya.

(Muhamad Marup)