Warga Jatim Diminta Waspada El Nino Kuat Pemicu Karhutla

Ilustrasi: Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur. ANTARA/Ananto Pradana

Warga Jatim Diminta Waspada El Nino Kuat Pemicu Karhutla

Silvana Febiari • 13 August 2026 13:51

Malang: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Timur (Jatim) mengingatkan seluruh daerah untuk mewaspadai fenomena El Nino kategori kuat. Kondisi tersebut dapat mengurangi curah hujan dan meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jatim Linda Fitrotul mengatakan indikasi El Nino dengan kategori kuat karena nilai anomali suhu muka laut di wilayah Samudera Pasifik timur (Nino 3.4) di atas +2 derajat Celsius.

"Dampak yang perlu diwaspadai adalah berkurangnya curah hujan dan musim kemarau menjadi lebih kering, karena dapat menyebabkan hari tanpa hujan menjadi lebih panjang, meningkatkan potensi kekeringan, berkurangnya ketersediaan air untuk pertanian maupun kebutuhan masyarakat, serta meningkatkan risiko karhutla," kata Linda, dilansir dari Antara, Kamis, 13 Agustus 2026. 
 


El Nino kategori kuat juga disebabkan terjadinya anomali suku muka laut di Samudera Hindia bagian barat dan timur yang ditunjukkan Indeks Indian Ocean Dipole (IOD) pada rentang positif 0,63. Hal ini mengindikasikan suplai air cenderung bergerak dari Indonesia bagian barat menuju ke pesisir timur Afrika.

Kombinasi kondisi yang ada itu pada akhirnya menyebabkan musim kemarau di wilayah Indonesia menjadi lebih kering dari normalnya. BMKG Stasiun Klimatologi Jatim memperkirakan musim kemarau berlangsung hingga awal 2027.


Ilustrasi kemarau. Foto: Pexels/Jonathan


Pihaknya mengimbau masyarakat tidak melakukan segala aktivitas yang mampu memicu terjadinya karhutla, seperti membuang puntung rokok sembarangan dan membakar sampah. Masyarakat juga diingatkan tidak melakukan aktivitas pembersihan area lahan atau kebun melalui pembakaran.

"Kami mengimbau pula supaya masyarakat bijak saat memanfaatkan air," ungkap Linda.

(Silvana Febiari)