Dampak El Nino Godzilla Tidak Sama, Simak Tingkat Kekeringan Tiap Wilayah

Ilustrasi kemarau. Foto: Pexels/Jonathan

Dampak El Nino Godzilla Tidak Sama, Simak Tingkat Kekeringan Tiap Wilayah

Muhamad Marup • 12 August 2026 17:45

Jakarta: El Nino Godzilla berpotensi mengurangi curah hujan dan memicu persoalan berantai, mulai dari kekeringan, krisis air, hingga gangguan terhadap sektor ketahanan pangan. Meski begitu, dampak El Nino tidak sama di setiap wilayah.

"El Nino Godzilla sebaiknya tidak hanya dipahami sebagai fenomena iklim yang ekstrem, tetapi juga sebagai alarm untuk melihat bagaimana setiap wilayah memiliki tingkat risiko dan kapasitas adaptasi yang berbeda," ujar Dosen Departemen Geografi Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM), Emilya Nurjani, mengutip laman resmi UGM, Rabu, 12 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, El Nino yang datang bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif merupakan fenomena iklim berskala regional hingga global. Kombinasi keduanya dapat memengaruhi distribusi curah hujan di Indonesia.

Emilya menambahkan, fenomena keduanya berkaitan dengan adanya perubahan suhu muka laut, tetapi terjadi di wilayah yang berbeda. Fenomena El Nino berkaitan dengan kondisi di wilayah Pasifik tropis, sedangkan IOD positif berkaitan dengan perbedaan suhu muka laut antara bagian barat dan timur Samudra Hindia. 

"Ketika kedua fenomena tersebut berkembang secara bersamaan, maka efeknya dapat saling memperkuat dalam mengurangi curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia," jelasnya.

Tingkat Kekeringan

Emilya menekankan, kondisi tersebut dapat menyebabkan musim kemarau dapat berlangsung lebih panjang dan awal musim hujan dapat mengalami kemunduran. Dalam perspektif geografi, pengaruh El Nino dan IOD sangat bergantung pada karakteristik masing-masing wilayah, antara lain lokasi, pola monsun, topografi, bentuk lahan, serta kondisi hidrologis dan geologis.

Ia menjelaskan bahwa El Nino tidak otomatis membuat seluruh Indonesia mengalami kekeringan dengan intensitas dan dampak yang sama. Faktor yang menentukan tingkat kerentanan meliputi pola curah hujan, topografi, jenis dan kondisi tanah, ketersediaan sumber air, penggunaan lahan, kepadatan penduduk, serta ketergantungan masyarakat terhadap sektor pertanian.

Antisipasi El Nino, Pemkab Sleman Tetapkan Status Siaga Darurat Kekeringan

Ilustrasi kekeringan. Foto: Dok. MGN.

Wilayah yang secara klimatologis memiliki perbedaan musim penghujan dan kemarau yang lebih tegas atau bertipe monsoonal dinilai memiliki risiko lebih besar. Menurut Emilya, wilayah bertipe monsoonal antara lain:
  • Sebagian Jawa
  • Bali
  • Nusa Tenggara
  • Sebagian Sulawesi
  • Serta wilayah selatan Indonesia.
"Sebaliknya, wilayah yang memiliki pola hujan atau klimatologi ekuatorial memiliki karakteristik berbeda dalam menghadapi periode kering," tuturnya terangnya," tambahnya.

Kondisi geologi juga turut menentukan kemampuan suatu wilayah dalam menghadapi kekeringan. Wilayah yang memiliki air tanah luas dan banyak karena faktor geologi cenderung lebih mampu menghadapi kekeringan dibandingkan wilayah yang terbentuk dari batuan gamping atau kawasan karst. 

"Wilayah monsoonal dan karst memiliki dampak terhadap ketersediaan air dan pertanian jika mengalami penambahan periode kering," tuturnya.

Pendekatan Berbasis Wilayah

Emilya menekankan pentingnya pendekatan berbasis wilayah dalam menghadapi ancaman kekeringan. Pemerintah tidak cukup hanya menyampaikan bahwa Indonesia akan mengalami kekeringan, tetapi perlu menjelaskan proses kekeringan, wilayah yang paling rentan, kelompok yang terdampak, serta sumber daya yang tersedia untuk mengurangi risiko.

"Kawasan perkotaan dan kawasan pertanian intensif, misalnya, memiliki kebutuhan air yang tinggi sehingga dapat menghadapi tekanan lebih besar ketika cadangan air menurun," ucapnya. Dalam menghadapi potensi kekeringan yang dapat berlangsung hingga awal 2027, ia mendorong agar pemerintah mengubah pendekatan yang lebih komprehensif berbasis informasi iklim. 

Di sisi lain, pemerintah daerah perlu memperkuat infrastruktur penyimpanan air, seperti waduk, kolam retensi, dan sistem pemanenan air hujan. Upaya tersebut perlu disertai dengan perlindungan daerah tangkapan air dalam jangka panjang.

"Menghadapi El Nino bukan hanya bagaimana kita menghadapi kekeringan ketika sudah terjadi, tetapi bagaimana kita menggunakan informasi iklim untuk bertindak lebih awal," terangnya.

(Muhamad Marup)