Siap Antisipasi Kemarau, Mentan Minta Publik Tidak Keliru Memaknai El Nino

Menteri Pertahanan (Mentan), Andi Amran Sulaiman, dalam acara Top Economy bersama host Leonard Samosir, yang disiarkan Metro TV, Selasa, 11 Agustus 2026. Foto: tangkapan layar Youtube Metro TV

Siap Antisipasi Kemarau, Mentan Minta Publik Tidak Keliru Memaknai El Nino

Muhamad Marup • 11 August 2026 23:05

Jakarta: Menteri Pertahanan (Mentan), Andi Amran Sulaiman, memastikan sektor pertanian siap mengantisipasi datangnya musim kemarau. Di sisi lain, ia meminta publik untuk tidak keliru memaknai El Nino karena dapat berpengaruh terhadap produksi.

"ini tidak boleh sembarang umum. Karena itu berdampak pada produksi," ujar Mentan dalam acara Top Economy bersama host Leonard Samosir, yang disiarkan Metro TV, Selasa, 11 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, kabar El Nino yang simpang siur dapat membuat petani enggan untuk menanam. Padahal di momen-momen tersebut proses produksi masih bisa berjalan.

"Begitu mendengar El Nino Godzilla, yang jumlah air sedikit, berhenti tanam. Kita kesulitan memberitahu. Padahal sebetulnya masih bisa tanam," tuturnya.

Belajar dari Pengalaman

Mentan menerangkan, berdasarkan pengalaman-pengalaman El Nino sebelumnya, pemerintah mampu mengantisipasi. Pada El Nino tahun 2016 angka impor beras sebesar 1,5 ton.

Ia menambahkan, pada El Nino 2023-2024, jumlah impor sebesar 7 juta ton untuk dua tahun. Meski mengakui pada periode tersebut kurang persiapan, tapi jumlah tersebut masih di bawah dari rencana impor sebesar 10 juta ton.

"Jadi dulu saja, dalam waktu singkat, kita bisa bertahan. Apalagi sekarang, dengan pengalaman El Nino 3 kali," katanya.

Langkah Antisipasi

Mentan mengungkapkan, persiapan menghadapi musim kemarau tahun ini sudah dipersiapkan sejak tahun 2024-2025. Salah satunya dengan memasang pompa sebanyak 150 ribu unit di seluruh Indonesia serta perbaikan irigasi seluas 4 juta hektare.

NTP Juli 2026 Cetak Rekor, Mentan: Tanda Kesejahteraan Petani Meningkat

Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Foto: Metrotvnews.com/Muhammad Syawaluddin.

Selain itu, lanjutnya, pemerintah juga melakukan intensifikasi dengan memperbaiki sekitar 800.000 hektare lahan. Dengan demikian, lahan tersebut bisa menambah kuantitas tanam dari satu kali menjadi tiga kali tanam.

Pemerintah juga melakukan ekstensifikasi atau cetak sawah sebanyak 200.000 hektare. Jumlah tersebut akan bertambah menjadi 300-400 ribu pada tahun ini.

"Seluruh ini untuk mengantisipasi kekeringan," tuturnya.

Stok Beras

Mentan juga mengungkapkan, saat ini stok di gudang Bulog ada 5,2 juta ton beras. Selain itu, padi standing crop atau yang sedang tumbuh saat ini bisa menghasilkan sekitar 10,8 ton. dan jumlah beras yang ada di masyarakat sekitar 10 juta ton.

Dengan demikian jumlah total beras yang ada saat ini sekitar 26 juta ton beras. Dengan rata-rata konsumsi sebesar 2,6 juta ton per bulan, maka jumlah tersebut mampu bertahan hingga 10 bulan ke depan. Ia juga menyebut pada bulan Maret 2027 akan memasuki masa panen puncak atau panen raya sehingga stok beras dapat bertambah.

"Artinya sampai Mei tahun depan berarti stok kita ada. Masih aman," ucapnya.

(Muhamad Marup)