Warga membersihkan sampah yang hanyut terbawa aliran Sungai Ancar di Kelurahan Kekalik Jaya, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Jumat, 12 Juni 2026. ANTARA/Sugiharto Purnama
BMKG Sebut Dinamika Atmosfer Picu Hujan Lebat di NTB
Silvana Febiari • 12 June 2026 18:11
Mataram: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut dinamika atmosfer yang sedang aktif di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). Kondisi tersebut memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai angin kencang dan petir.
"Kelembapan udara pada lapisan menengah terpantau cukup tinggi berkisar antara 70 sampai 90 persen, sehingga mendukung proses pembentukan awan hujan," kata Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) Ari Wibianto, dilansir dari Antara, Jumat, 12 Juni 2026.
Ari menuturkan ada juga sirkulasi siklonik di sekitar Kalimantan bagian selatan yang membentuk daerah pertemuan massa udara atau konvergensi. Fenomena itu turut meningkatkan peluang pembentukan awan-awan hujan di wilayah NTB.
Bahkan, aktivitas gelombang atmosfer Madden–Julian Oscillation (MJO) dan Equatorial Rossby (ER) juga terpantau aktif di wilayah NTB sejak 11 Juni 2026. "Kondisi itu mendukung peningkatan pertumbuhan awan konvektif yang berpotensi memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang," papar Ari.
BMKG memperkirakan potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih berpeluang terjadi dalam satu hingga dua hari ke depan. Wilayah yang berpotensi terdampak hujan antara lain Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Lombok Utara, dan Bima, terutama pada siang hingga malam hari.

Ilustrasi hujan. Foto: Freepik.com
Ari meminta masyarakat tidak perlu heran apabila hujan masih turun meskipun NTB saat ini sedang memasuki periode musim kemarau. Menurut dia, musim kemarau tidak berarti hujan berhenti sepenuhnya, melainkan ditandai oleh berkurangnya frekuensi dan jumlah curah hujan dibandingkan musim hujan.
"Dalam kondisi tertentu, pengaruh dinamika atmosfer seperti aktivitas MJO, gelombang Equatorial Rossby, tingginya kelembapan udara, serta adanya daerah konvergensi dan perlambatan angin masih dapat memicu pertumbuhan awan konvektif yang menghasilkan hujan," ujar Ari.