IRGC tembak jatuh drone milik Amerika Serikat dan lakukan serangan ke pangkalan militer AS di Bahrain. Foto: Anadolu
Iran Tembak Jatuh Drone Milik AS, Serang Armada Kelima di Bahrain
Muhammad Reyhansyah • 10 June 2026 11:18
Bushehr: Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menembak jatuh pesawat nirawak MQ-9 milik Amerika Serikat (AS) di Provinsi Bushehr, Iran selatan.
Selain itu Iran juga melancarkan serangan drone terhadap Armada Kelima Angkatan Laut AS yang bermarkas di Bahrain.
Dalam pernyataan yang dirilis Rabu dini hari, 10 Juni 2026, IRGC menyebut serangan tersebut merupakan respons atas serangan militer AS terhadap sejumlah wilayah di Iran selatan, termasuk Jask, Sirik, dan Pulau Qeshm.
Menurut IRGC, serangan AS menyebabkan kerusakan pada sebuah menara telekomunikasi di Sirik dan menghancurkan dua tangki air di Distrik Bamani.
IRGC mengatakan, pasukan angkatan lautnya meluncurkan serangan drone ke Armada Kelima AS yang berbasis di Bahrain sekitar pukul 02.30 waktu setempat.
“Pertempuran masih berlangsung,” demikian pernyataan IRGC, dikutip dari Anadolu, Rabu, 10 Juni 2026.
Kelompok elite militer Iran itu juga memperingatkan bahwa respons yang lebih besar akan diberikan apabila serangan terhadap Iran terus berlanjut.
Ketegangan Meningkat di Selat Hormuz
Klaim Iran tersebut muncul hanya beberapa jam setelah Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan selesainya operasi yang disebut sebagai serangan untuk membela diri.CENTCOM menyatakan pesawat tempur AS menyerang sistem pertahanan udara dan fasilitas radar Iran di sekitar Selat Hormuz.
Militer AS menyebut operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas insiden jatuhnya helikopter Apache Angkatan Darat AS yang terjadi sebelumnya di kawasan tersebut.
Hingga saat ini, belum ada konfirmasi independen mengenai klaim Iran yang menyebut telah menembak jatuh drone MQ-9 maupun keberhasilan serangan terhadap Armada Kelima AS di Bahrain.
Perkembangan terbaru ini menandai meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran di tengah upaya diplomatik yang masih berlangsung untuk mencapai kesepakatan permanen pascagencatan senjata yang rapuh di kawasan Timur Tengah.