Potret lawas jalur trem Tasikmalaya–Singaparna. Instagram @exploretasikmalaya
Menelusuri Jejak Jalur Trem di Priangan Timur Penghubung Tasikmalaya–Singaparna
Whisnu Mardiansyah • 22 September 2026 18:26
Tasikmalaya: Jaringan perkeretaapian pernah menjadi salah satu sarana penting yang menghubungkan berbagai kawasan di Pulau Jawa. Di tengah perkembangan tersebut, Tasikmalaya, Jawa Barat, juga memiliki jalur trem yang menghubungkan pusat kota dengan Singaparna.
Lintasan sepanjang 17,8 kilometer itu kini sudah tidak beroperasi. Relnya dibongkar pada masa pendudukan Jepang. Perubahan tata ruang dan perkembangan permukiman kemudian turut mengubah sebagian jejak jalur yang pernah menjadi bagian dari aktivitas masyarakat Tasikmalaya dan Singaparna.
Jalur Tasikmalaya–Singaparna dibangun Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda. Pembangunan fisiknya dimulai pada Maret 1910 dan lintasan tersebut mulai digunakan untuk operasional pada 1 Juni 1911.
Saat itu, Tasikmalaya telah terhubung dengan jaringan kereta api utama di kawasan Priangan. Jalur menuju Singaparna menjadi salah satu pengembangan jaringan rel untuk menjangkau kawasan permukiman dan pusat kegiatan ekonomi di sekitar Tasikmalaya.
Gagasan membangun jalur menuju Singaparna sudah muncul jauh sebelum rel benar-benar dibangun. Sejumlah pihak swasta pernah mengajukan konsesi kepada pemerintah Hindia Belanda untuk membangun lintasan tersebut. Salah satunya K van Horck pada akhir abad ke-19. Meski memperoleh izin, rencana pembangunan tidak segera diwujudkan hingga masa konsesinya berakhir.
Pengajuan berikutnya dilakukan Myer pada 31 Desember 1898. Rencana ini mencakup jalur Tasikmalaya–Singaparna serta sejumlah percabangan menuju wilayah lain.
Pemerintah kolonial memberikan kesempatan kepada pihak swasta untuk merealisasikan proyek tersebut. Namun, setelah izin beberapa kali diperpanjang tanpa diikuti pelaksanaan pembangunan, pemerintah akhirnya mengambil alih proyek tersebut.
Pembangunan kemudian diserahkan kepada Staatsspoorwegen. Setelah melalui proses perencanaan yang panjang, pembangunan fisik akhirnya dimulai pada 1910.
Pembangunan Dimulai pada 1910
Pengerjaan jalur diawali dengan pengukuran dan pemetaan lintasan. Titik awal pembangunan berada di Stasiun Tasikmalaya.
Lintasan yang dibangun memiliki panjang sekitar 17,8 kilometer dengan lebar sepur 1.067 milimeter. Dari Tasikmalaya, jalur bergerak melewati kawasan perkotaan sebelum mencapai Singaparna.
Rencana awal sebenarnya tidak berhenti di Singaparna. Jalur tersebut direncanakan terus menuju Mangunreja dan Cibeuti melalui Sukaraja.
Kondisi medan menjadi salah satu persoalan dalam pengembangan rute tersebut. Kawasan yang hendak dilalui memiliki kontur berbukit. Jumlah penduduk di sejumlah wilayah juga relatif sedikit. Selain itu, pembangunan jalur lanjutan memerlukan jembatan untuk melintasi Sungai Ciwulan.
Rencana tersebut akhirnya tidak diteruskan. Pembangunan berhenti di Singaparna. Pada lintasan yang selesai dibangun, Staatsspoorwegen menyediakan sejumlah tempat pemberhentian.

Potret terkini bekas jalur trem Tasikmalaya–Singaparna. Instagram @exploretasikmalaya
Jarak antartitik pemberhentian relatif berdekatan sehingga jalur tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penghubung antara Tasikmalaya dan Singaparna, tetapi juga melayani kawasan di sepanjang lintasan. Catatan sejarah menyebut terdapat 12 tempat pemberhentian pada jalur tersebut.
Pembangunan jalur Tasikmalaya–Singaparna juga dilakukan dengan mempertimbangkan efisiensi biaya. Salah satu yang ditempuh ialah menggunakan kembali material dari pembangunan jalur kereta api lain. Sejumlah material bekas dari lintasan Batavia–Karawang dimanfaatkan untuk pembangunan jalur Tasikmalaya–Singaparna, termasuk material untuk bagian bangunan atas dan jembatan.
Data sejarah mencatat biaya pembangunan pada 1910 mencapai 205.783,80 gulden. Hingga proyek rampung pada 1911, total biaya pembangunan mencapai 610.248,01 gulden.
Setelah pembangunan selesai, jalur Tasikmalaya–Singaparna resmi dibuka pada 1 Juni 1911. Pembukaan ini menandai hadirnya koneksi transportasi rel yang menghubungkan pusat Tasikmalaya dengan Singaparna.
Menjadi Penghubung Aktivitas Masyarakat
Dengan panjang hanya 17,8 kilometer, jalur Tasikmalaya–Singaparna tergolong lintasan pendek. Namun, keberadaannya memiliki fungsi dalam mobilitas masyarakat dan kegiatan ekonomi di kawasan yang dilalui.
Trem tidak hanya mengangkut penumpang. Jalur tersebut juga berkaitan dengan aktivitas ekonomi Tasikmalaya dan Singaparna.
Singaparna pada masa itu menjadi pusat perkebunan dan produksi kerajinan. Keberadaan jalur rel memberikan akses menuju pusat Kota Tasikmalaya sehingga pergerakan orang dan kegiatan ekonomi memperoleh dukungan transportasi.
Pada awal pengoperasiannya, jalur tersebut juga mencatat pemasukan. Data sejarah perkeretaapian mencatat pendapatan sekitar 3.675 gulden pada Juni 1911. Setahun kemudian, angka tersebut meningkat menjadi sekitar 4.360 gulden.
Catatan tersebut menunjukkan aktivitas pada jalur Tasikmalaya–Singaparna sejak awal pengoperasiannya turut menghasilkan pendapatan bagi pengelola.
Keunikan jalur Tasikmalaya–Singaparna terdapat pada rutenya yang melewati sejumlah kawasan perkotaan. Dari Stasiun Tasikmalaya, jalur bergerak menuju beberapa titik pemberhentian di wilayah kota dan sekitarnya. Catatan sejarah mencatat Tasikmalaya Alun-Alun, Tasikmalaya Pasar, Cihideung, Padayungan, Cisambong, Mangkubumi, Cibanjaran, Cipari, Barengkok, Barolong, Sukaseneg, hingga Singaparna.
Jejak jalur lama tersebut kini tidak lagi terlihat utuh. Sejumlah bangunan yang pernah dikaitkan dengan operasional lintasan masih tercatat dalam sejarah lokal, termasuk bangunan yang pernah digunakan sebagai stasiun di kawasan Singaparna dan kemudian mengalami perubahan fungsi.
Berakhir di Masa Pendudukan Jepang
Masa operasional jalur Tasikmalaya–Singaparna berlangsung sekitar tiga dekade. Perubahan besar terjadi setelah Jepang menduduki Indonesia pada 1942. Sistem perkeretaapian turut diarahkan untuk mendukung kepentingan perang. Sejumlah jalur dibongkar dan material relnya digunakan kembali untuk kebutuhan lain.
Jalur Tasikmalaya–Singaparna menjadi salah satu lintasan yang mengalami pembongkaran. Catatan sejarah perkeretaapian mencatat 1943 sebagai tahun penutupan jalur tersebut.
Pembongkaran rel mengakhiri perjalanan kereta api antara Tasikmalaya dan Singaparna. Material perkeretaapian dari sejumlah jalur di Jawa pada periode tersebut juga dimanfaatkan untuk kepentingan perang Jepang.
Kajian sejarah yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Indonesia turut mencatat jalur Tasikmalaya–Singaparna sebagai salah satu lintasan yang dibongkar pada masa pendudukan Jepang.
Berakhirnya pendudukan Jepang tidak langsung mengembalikan jalur Tasikmalaya–Singaparna ke kondisi sebelum pembongkaran.
Setelah Indonesia merdeka, terdapat upaya menghidupkan kembali sejumlah jaringan kereta api yang sebelumnya dibongkar. Jalur Tasikmalaya–Singaparna juga sempat masuk dalam upaya pemulihan tersebut.
Namun, pemulihan tidak berlangsung hingga Singaparna. Catatan sejarah menyebut lintasan tersebut sempat dipulihkan hingga Cibanjaran pada 1948, ketika Belanda berupaya mengoperasikan kembali sejumlah jaringan perkeretaapian.
*Pengerjaan artikel ini melibatkan peran kecerdasan buatan (artificial intelligence) dengan kontrol penuh tim redaksi.